BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Kenaikan Harga CPO dan Tantangan Ekspor Sawit Indonesia di 2024

22 Februari 2026|Kenaikan Harga CPO 2024
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kenaikan Harga CPO dan Tantangan Ekspor Sawit Indonesia di 2024

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami kenaikan, namun Indonesia menghadapi ancaman penurunan ekspor sawit pada 2024 akibat sejumlah faktor.

Indonesia menyaksikan dinamika harga minyak sawit mentah (CPO) yang menunjukkan tren positif di awal tahun 2025, seiring dengan meningkatnya permintaan global dan pengaruh pasar minyak kedelai. Pada 13 Januari 2025, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom tercatat naik 2,24% menjadi Rp. 14.206/kg, naik sekitar Rp 311/kg dibandingkan harga sebelumnya.

Kenaikan ini tidak terlepas dari penguatan harga minyak kedelai yang terjadi di Bursa Dalian dan Bursa Chicago, yang mendorong harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives. Analisis dari para dealer menunjukkan bahwa harga CPO diperkirakan akan bergerak dengan bias bullish, dengan proyeksi harga di kisaran RM4,300 hingga RM4,500 per ton. Namun, beberapa analis juga memperingatkan potensi koreksi harga, memperkirakan penyesuaian di kisaran RM4,100 hingga RM4,300 per ton.

Di balik tren kenaikan harga ini, terdapat tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh industri sawit Indonesia. Menurut pengurus bidang komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fenny Sofyan, Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan ekspor sawit hingga 10% pada tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh sejumlah persoalan, baik dari aspek regulasi maupun non-regulasi.

Data menunjukkan bahwa volume ekspor produk minyak sawit Indonesia telah mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2019, di mana volume ekspor mencapai 37,4 juta ton, turun menjadi 34 juta ton pada 2020, dan terus menurun menjadi 33,6 juta ton pada 2021. Meskipun ada sedikit peningkatan menjadi 33,9 juta ton pada 2022, prospek untuk tahun 2024 tidak optimis. Penurunan ini menjadi tantangan serius bagi sektor yang sangat bergantung pada ekspor.

Ketidakstabilan harga dan volume ekspor ini juga berimbas pada pasar domestik, di mana harga minyak goreng kemasan sederhana, termasuk merek Minyakita, masih belum memenuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Iqbal Shoffan Shofwan, mengungkapkan bahwa banyak pengecer masih menjual produk tersebut di atas HET, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai evaluasi dan pengawasan.

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, Iqbal menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah pengendalian distribusi dan harga, yang mempengaruhi daya beli konsumen. Kementerian Perdagangan terus mendorong BUMN pangan serta produsen dan distributor untuk mematuhi HET agar harga di pasar dapat stabil.

Dengan kondisi pasar yang fluktuatif dan tantangan ekspor yang signifikan, industri kelapa sawit Indonesia harus menghadapi sejumlah tantangan di tahun 2024. Kenaikan harga CPO memberikan harapan, namun langkah strategis diperlukan untuk mengatasi penurunan volume ekspor dan menjaga stabilitas pasar domestik.

Sumber:

  • Harga CPO KPBN Inacom Naik 2,24 Persen Pada Senin (13 per 1), Harga CPO di Bursa Malaysia Naik โ€” Info Sawit (2025-01-13)
  • Harga CPO Diprediksi Menguat, Dipengaruhi Pasar Minyak Kedelai dan Permintaan Global โ€” Info Sawit (2025-01-13)
  • Bayang-bayang Anjloknya Ekspor Sawit Indonesia 2024 โ€” Sawit Indonesia (2025-01-13)
  • Memperpendek Rantai Distribusi Minyakita Jaga Stabilisasi Harga โ€” Sawit Indonesia (2025-01-13)