BeritaSawit.id
πŸ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026

5 April 2026|Proyeksi Harga CPO 2026
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026

Gambaran minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya menunjukkan tren harga yang berfluktuasi di pasar global.

Harga minyak sawit mentah diperkirakan akan meningkat hingga RM4.600 per ton pada kuartal II 2026, didorong oleh permintaan biofuel dan kenaikan harga energi global.

(2026/04/05) Harga minyak sawit mentah (CPO) diproyeksi akan terus mengalami kenaikan hingga mencapai RM4.600 per ton pada kuartal II 2026. Proyeksi ini didorong oleh ketatnya pasokan jangka pendek dan meningkatnya permintaan biofuel secara global.

Menurut laporan dari Hong Leong Investment Bank Bhd (HLIB), harga CPO akan naik sebesar RM150 per ton dari proyeksi sebelumnya, menjadi RM4.350 per ton. Lonjakan ini diperkirakan akan berlanjut hingga pertengahan tahun, sebelum mengalami koreksi pada paruh kedua 2026. Setiap kenaikan RM100 per ton harga CPO dapat meningkatkan laba perusahaan perkebunan sebesar tiga hingga delapan persen.

Selain itu, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) juga mencatat bahwa harga CPO global akan terpengaruh oleh naiknya harga energi dunia. Kenaikan tersebut berpotensi membuat harga CPO mencapai US$1.000 per ton, terutama dengan adanya program B50 yang mengharuskan penggunaan biodiesel berbasis sawit.

Kenaikan permintaan akan biofuel juga menjadi pendorong penting bagi harga CPO. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan untuk produk energi terbarukan ini telah meningkat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional. Dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu, ketergantungan pada sumber energi alternatif seperti biodiesel semakin meningkat.

Proyeksi harga CPO yang optimis ini menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan bagi industri sawit Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, termasuk fluktuasi harga energi dan perubahan kebijakan di pasar global yang bisa berdampak pada permintaan dan penawaran.

Melihat situasi ini, para pelaku industri harus mempersiapkan strategi yang tepat untuk memanfaatkan peluang yang ada. Pertanyaannya, bagaimana industri sawit Indonesia akan beradaptasi dengan perubahan ini untuk menjaga daya saing di pasar global?

Sumber: