BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga TBS dan Saham Perkebunan Sawit Menguat di Tengah Permintaan

13 April 2026|Harga TBS dan kesepakatan
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga TBS dan Saham Perkebunan Sawit Menguat di Tengah Permintaan

Petani sedang memanen tandan buah segar (TBS) sawit di perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Harga tandan buah segar (TBS) sawit diminta sesuai kesepakatan, sementara saham emiten perkebunan sawit menunjukkan tren penguatan pada April 2026.

(2026/04/13) Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diminta untuk mengikuti kesepakatan, sementara saham emiten perkebunan sawit menguat di Bursa Efek Indonesia. Ketua DPRD Babel, Didit Sri Gusjaya, mengungkapkan banyak keluhan dari petani terkait harga TBS yang rendah, yang merugikan mereka. Pihaknya berencana memanggil pabrik kelapa sawit untuk berdialog dengan petani agar harga TBS kembali sesuai kesepakatan.

Permasalahan harga TBS ini sangat penting bagi industri sawit Indonesia, mengingat peran petani sebagai pemasok utama bahan baku. Menurut Didit, kesepakatan harga menjadi dasar hubungan saling menguntungkan antara perusahaan dan petani. Jika perusahaan tidak menghargai kesepakatan tersebut, maka akan berisiko merusak hubungan jangka panjang dan keberlangsungan pasokan bahan baku.

Sementara itu, di pasar saham, emiten perkebunan sawit menunjukkan tren penguatan. Pada Senin, 13 April 2026, sejumlah saham seperti PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) melonjak 5,94 persen menjadi Rp214 per unit, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) meningkat 5,42 persen menjadi Rp1.750 per unit. Saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga mengalami kenaikan 4,84 persen.

Selain itu, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) naik 5,26 persen, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) 2,29 persen, dan beberapa emiten lain juga mencatatkan kenaikan yang signifikan. Penguatan ini sejalan dengan harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia yang naik sekitar 1 persen mendekati MYR4.600 per ton. Hal ini menunjukkan indikasi positif bagi sektor perkebunan sawit di Indonesia, di tengah tantangan harga TBS yang belum sepenuhnya berpihak kepada petani.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika harga CPO global tetap stabil atau meningkat, maka diharapkan tekanan terhadap harga TBS di dalam negeri dapat terangkat. Ini penting untuk mendorong kesejahteraan petani dan keberlangsungan industri sawit secara keseluruhan. Apakah perusahaan-perusahaan sawit akan memenuhi tuntutan harga ini? Pertanyaan ini menjadi tantangan yang harus dijawab agar hubungan antara petani dan perusahaan tetap harmonis.

Sumber: