Harga TBS Sawit Riau Naik, CPO Melemah di Bursa Malaysia

Harga TBS kelapa sawit meningkat, memberikan harapan baru bagi petani di Indonesia amid tantangan industri.
Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Riau meningkat, sementara harga CPO mengalami penurunan di pasar global pada 14 April 2026.
(2026/04/14) Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Riau mengalami kenaikan menjadi Rp4.116,83 per kilogram untuk periode 15-21 April 2026. Di sisi lain, harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar mengalami penurunan, yang menunjukkan dinamika berlawanan dalam industri sawit Indonesia.
Rapat penetapan harga TBS dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Riau, yang mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian dan keputusan Dirjenbun. Kenaikan harga ini didorong oleh hasil kajian dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, yang mencatat kenaikan tertinggi untuk kelompok umur sawit 9 tahun sebesar Rp41,42/kg. Hal ini memberikan dampak positif bagi petani sawit di Riau, yang kini mendapatkan harga lebih baik untuk produksi mereka.
Sementara itu, harga sawit mitra swadaya juga meningkat ke Rp4.088,09 per kilogram, meski masih sedikit di bawah harga sawit mitra plasma. Kenaikan ini sebesar Rp81,03/kg atau sekitar 2,02% dibandingkan periode sebelumnya. Defris Hatmaja, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan, menjelaskan bahwa perkembangan harga CPO dan kernel yang positif telah berkontribusi pada kenaikan harga TBS.
- Harga TBS Sawit Kalbar Tembus Rp3.765, CPO Menguat 0,63% di Pasar Global (10 April 2026)
- Kenaikan Harga Sawit di Riau Tembus Rp4.075 per Kg pada April 2026 (7 April 2026)
- Harga TBS dan CPO di Jambi Meningkat Signifikan Awal April 2026 (3 April 2026)
- Harga CPO dan TBS Sawit Sumut Melemah di Tengah Penguatan CPO Global (15 April 2026)
Di sisi lain, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada 14 April 2026 tercatat turun menjadi Rp15.325/kg, menurun Rp310/kg atau sekitar 1,38% dari harga sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring dengan melemahnya harga di Bursa Malaysia, di mana harga kontrak berjangka CPO acuan mengalami penurunan lebih dari 1%, dipicu oleh tekanan dari penurunan harga minyak mentah global dan pelemahan minyak nabati pesaing.
Dengan situasi ini, industri sawit di Indonesia dihadapkan pada tantangan dan peluang. Meskipun harga TBS menunjukkan tren positif bagi petani, penurunan harga CPO di pasar global dapat mempengaruhi pendapatan dari ekspor dan profitabilitas pengolahan. Ke depan, para pemangku kepentingan perlu beradaptasi dengan fluktuasi harga ini untuk menjaga keberlanjutan industri sawit.
Ketika dihadapkan pada fluktuasi pasar, analis industri mengingatkan pentingnya diversifikasi produk dan pengembangan pasar baru guna memitigasi risiko yang dihadapi para pelaku usaha sawit.
Sumber: