Karhutla di Kobar Lalap Kebun Sawit Masyarakat hingga KM 18, Petani Laporkan Tanaman Baru Ikut Hangus

Satgas PKH melakukan pengawasan di kawasan hutan untuk penyitaan lahan sawit ilegal di Indonesia.
Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat merambat hingga KM 18 dan membakar kebun sawit masyarakat, termasuk tanaman yang baru seminggu ditanam.
(2026/09/15) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, merambat sepanjang Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama dan telah membakar kebun sawit masyarakat dari KM 14 hingga KM 18, menyebabkan kerugian materiil baik pada tanaman muda maupun kebun yang sudah produktif.
Api dilaporkan masih bergerak menuju KM 18 pada Senin siang, menurut pernyataan warga setempat, sehingga kecemasan warga meningkat karena banyak lahan pertanian yang berada di sepanjang jalur terdampak. Titik-titik kebun yang terbakar beragam usianya; ada yang baru ditanam sekitar satu pekan dan ada pula kebun yang telah memasuki masa produktif.
Warga Raja Seberang, Tio Sakti, menyampaikan bahwa rata-rata kebun masyarakat yang terdampak memiliki luas antara 15 hingga 30 hektare, dan kebakaran itu menimpa mayoritas kebun di sepanjang daerah tersebut. Tio juga menyebutkan bahwa banyak tanaman sawit muda yang seharusnya menjadi investasi jangka panjang bagi pemiliknya tetapi hangus sebelum sempat tumbuh dan menghasilkan.
- Prabowo Minta Penyelidikan setelah Lahan Karhutla di Kalbar Langsung Berubah Jadi Kebun Sawit (8 September 2026)
- Anggota DPRD Mempawah Diduga Membakar Lahan untuk Tanam Sawit, HMI Desak Pemeriksaan (21 September 2026)
- Pelaku Pembakaran untuk Buka Lahan Sawit di Berau Jadi Tersangka, Api Hanguskan 12 Hektare (22 Agustus 2026)
- Forum Internasional Bahas Isu Sawit dan Reduksi Emisi Karbon (22 April 2026)
Perhitungan yang disampaikan warga digunakan sebagai ilustrasi untuk menunjukkan potensi kerugian akibat kebakaran: asumsi nilai lahan sekitar Rp 100 juta per hektare. Tio mencontohkan, lahan seluas lima hektare secara ilustrasi bernilai sekitar Rp 500 juta, belum termasuk nilai tanaman sawit di atasnya yang menurut ilustrasi warga bisa mencapai sekitar Rp 180 juta untuk 3.600 pokok pada satu lahan dengan asumsi Rp 50 ribu per pokok.
Untuk kebun yang telah berusia sekitar delapan tahun, Tio memperkirakan nilai tanamannya dapat mencapai Rp 80 juta sampai Rp 100 juta per hektare, tergantung kondisi dan produktivitas. Ia juga memaparkan bahwa dalam kondisi normal produksi dapat mencapai sekitar 1,2 ton TBS per hektare dengan harga sekitar Rp 3.300 per kilogram, sehingga potensi pendapatan kotor setiap kali panen mencapai sekitar Rp 3,96 juta per hektare.
Kerugian akibat kebakaran bukan hanya hilangnya nilai lahan dan tanaman, tetapi juga hilangnya sumber pendapatan rutin bagi pemilik kebun yang telah menghasilkan. Warga berharap penanganan karhutla diperkuat untuk mencegah meluasnya kebakaran dan menyelamatkan kebun-kebun yang masih tersisa sebelum api terus merambat ke area lain.
Hingga laporan ini disusun, api masih bergerak menuju KM 18 dan warga setempat terus memantau dampak kebakaran. Tio menegaskan kekhawatiran warga atas potensi kerugian lanjutan dan mendesak upaya pemadaman serta pencegahan diperkuat di kawasan terdampak.
Sumber: