PLN EPI: CBG dari POME Bisa Redam Emisi 20 Juta Ton CO2e dan Kurangi Ketergantungan LNG

Deretan drum biodiesel dan tangki blending di fasilitas industri dengan jerigen BBM impor yang disingkirkan, melambangkan substitusi bahan bakar impor oleh biodiesel sawit dalam negeri.
PLN EPI menyatakan CBG dari limbah cair sawit (POME) berpotensi kurangi 20 juta ton CO2e per tahun dan menjadi sumber energi alternatif bagi pembangkit gas.
(2026/06/22) Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir mengatakan pemanfaatan compressed biomethane gas (CBG) dari limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) berpotensi besar menekan emisi dan mengurangi ketergantungan impor liquefied natural gas (LNG).
Hokkop menyampaikan pernyataan itu dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertema Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi Metana untuk Sektor Industri di Jakarta. Menurut PLN EPI, tantangan utama pengembangan CBG kini bukan ketersediaan bahan baku maupun teknologi melainkan model bisnis yang dapat mempercepat implementasi.
PLN EPI mencatat Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair hingga 130 juta meter kubik per tahun. Data tersebut menjadi landasan penilaian PLN EPI bahwa potensi bahan baku biomethane dari sektor sawit sangat besar dan masih belum termanfaatkan secara optimal.
- GAPKI Tingkatkan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla di Riau Menghadapi El Nino (25 April 2026)
- Industri Sawit Tunjukkan Komitmen pada Ekonomi Hijau dan Efisiensi Air (17 April 2026)
- Kemenhut Didorong Tegakkan Hukum Terkait Deforestasi dan Korupsi Sawit (2 April 2026)
- Tata Kelola Sawit Turunkan Emisi, Kedelai Picu Kerusakan Biodiversitas (18 April 2026)
Perusahaan memperkirakan limbah sawit menghasilkan emisi sekitar 20 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun dan menyatakan hampir 90 persen dari emisi tersebut dapat diatasi melalui pemanfaatan menjadi sumber energi. Estimasi itu menjadi argumen utama PLN EPI untuk mendorong konversi POME menjadi CBG sebagai strategi mitigasi emisi metana.
Untuk mempercepat pengembangan, PLN EPI sedang membangun ekosistem bisnis CBG terintegrasi yang mencakup penyediaan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, serta pengembangan pasar dan distribusi. Dalam skema bisnis yang diusulkan, PLN EPI akan berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga keuangan, pelaku industri, dan sektor ketenagalistrikan.
Hokkop menegaskan: "Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan." Pernyataan itu menegaskan komitmen PLN EPI untuk membeli produksi CBG dan menyalurkannya ke pembangkit.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah pemanfaatan Bio-CBG untuk skema cofiring di PLTGU Belawan. Pada tahap awal, PLN EPI memperkirakan satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt dengan porsi cofiring 2,5 persen membutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG, kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh satu fasilitas pengolahan POME menurut perhitungan internal PLN EPI.
PLN EPI menyatakan jika skema itu diterapkan pada empat turbin PLTGU Belawan, dibutuhkan empat fasilitas CBG dengan total investasi yang sedang dihitung; satu skenario awal menunjuk kebutuhan investasi sekitar US$ 20 juta untuk beberapa fasilitas, meski PLN EPI terus merinci skema pembiayaan dan peran lembaga keuangan dalam forum CPI.
Selain peran agregator dan offtaker, PLN EPI menggarisbawahi perlunya skema pembiayaan yang memadukan peran investor swasta dan institusi keuangan publik untuk menutup kebutuhan modal proyek pengolahan POME menjadi CBG. Pembentukan ekosistem ini diharapkan mempercepat realisasi proyek percontohan dan skala komersial.
Upaya pengembangan biomethane dinilai selaras dengan target pemerintah meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 44โ48 persen pada 2030 dan mendukung target net zero emissions (NZE) pada 2060, menurut pemetaan kebijakan yang dikemukakan PLN EPI dalam presentasinya di forum CPI.
PLN EPI menempatkan diri sebagai fasilitator transaksi: mereka akan membeli produksi CBG dari fasilitas pengolahan POME dan menyalurkannya untuk keperluan cofiring di pembangkit, sehingga mekanisme off-take diharapkan meningkatkan bankabilitas proyek bagi pengembang dan pemberi pinjaman.
Langkah-langkah teknis dan skema investasi lanjutan dibahas lebih detail dalam pertemuan internal dan dialog dengan lembaga keuangan setelah forum CPI, dengan target memulai beberapa proyek percontohan dalam 12โ18 bulan mendatang menurut timeline awal yang diusulkan PLN EPI.
Sumber: