BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga CPO Turun, Produksi Stabil, Dampak Eksportasi di Pasar Sawit Indonesia

8 April 2026|GAPKI: Jika Indonesia Tiru
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Turun, Produksi Stabil, Dampak Eksportasi di Pasar Sawit Indonesia

Gambaran minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya menunjukkan tren harga yang berfluktuasi di pasar global.

Harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia mengalami penurunan, sementara proyeksi harga global menunjukkan tren penguatan. Apa dampaknya bagi industri sawit?

(2026/04/08) Indonesia mengalami penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) pada awal April 2026, dengan harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat Rp15.750/kg, turun Rp525/kg atau sekitar 3,23% dibandingkan minggu lalu. Selain itu, tekanan di pasar internasional juga meningkat akibat perkembangan geopolitik yang mempengaruhi harga komoditas.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, ide menahan ekspor CPO seperti yang dilakukan Thailand berisiko tinggi bagi Indonesia. Dengan produksi yang jauh lebih besar dibandingkan Thailand, pasar domestik berpotensi mengalami kelebihan pasokan jika ekspor dibatasi, yang dapat menyebabkan harga terjun bebas. "Produksi kita surplus. Kalau ekspor ditahan, tekanan harga di dalam negeri akan meningkat," kata Eddy.

Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives juga mengalami penurunan tajam. Pada perdagangan Selasa (7/4), kontrak CPO April 2026 ditutup pada level 4.691 Ringgit Malaysia per ton, turun 49 Ringgit dari hari sebelumnya. Penurunan ini diikuti oleh kontrak Mei dan Juni yang juga mencatatkan penurunan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pasar sawit sedang dalam situasi yang tidak stabil, tertekan oleh harga minyak mentah dunia yang berfluktuasi.

Di sisi lain, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) meluncurkan outlook untuk kuartal kedua 2026, mengindikasikan proyeksi penguatan harga CPO global. Diperkirakan harga CPO akan naik dari USD 1.165 per ton pada Maret menjadi USD 1.783 per ton pada Juni 2026. Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan harga energi global dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.

Di tingkat lokal, harga kelapa sawit bervariasi. Di Sumatera Selatan, harga kelapa sawit mencapai Rp3.947,34/kg, sementara di Sumatera Barat, harga jatuh tipis menjadi Rp4.079,47/kg. Meskipun terjadi penurunan, harga di Sumatera Barat masih tergolong tinggi dan tetap menjadi yang tertinggi secara nasional. Di Bengkulu, harga kelapa sawit mencapai Rp3.232,68/kg, menunjukkan stabilitas produksi di daerah tersebut.

Dengan kondisi pasar yang berfluktuasi ini, petani kelapa sawit di berbagai daerah diharapkan dapat memanfaatkan momen harga yang tinggi untuk meningkatkan pemeliharaan kebun mereka. Namun, tantangan tetap ada, terutama dengan kebijakan yang berpotensi mengganggu stabilitas harga di dalam negeri.

Seiring dengan perkembangan harga di pasar global dan domestik, tantangan bagi industri sawit Indonesia adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspor dan stabilitas harga di pasar lokal. "Kita perlu strategi yang tepat untuk menghindari situasi kelebihan pasokan yang dapat merugikan petani," ujar Eddy Martono menekankan pentingnya kebijakan yang bijak dalam mengelola industri sawit.

Sumber: