Harga CPO dan Prospek Pasar Kelapa Sawit di Tahun 2025

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami fluktuasi yang signifikan di awal tahun 2025, sementara proyeksi masa depan menunjukkan potensi stabilitas harga di tengah tantangan pasokan global.
Harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia dan Malaysia menunjukkan tren yang beragam di awal tahun 2025, dengan penurunan harga yang signifikan di bursa domestik, namun diiringi proyeksi positif untuk stabilitas harga di pasar global.
Pada Rabu (15/1/2025), PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mencatatkan harga CPO tertinggi di angka Rp 13.881/kg, mengalami penurunan sebesar 2,16% dari harga sebelumnya yang berada di Rp 14.188/kg. Hal ini mencerminkan adanya withdraw pada tender yang dilakukan oleh KPBN, di mana tidak ada kesepakatan harga antara penyelenggara dan peserta tender. Penurunan harga ini juga diikuti oleh harga CPKO, menunjukkan bahwa kondisi pasar saat ini cukup menantang.
Sementara itu, di Bursa Malaysia, harga kontrak CPO berjangka juga mengalami penurunan, sejalan dengan melemahnya harga minyak kedelai di Chicago yang mempengaruhi permintaan pasar. Hal ini menambah tantangan bagi para pelaku industri kelapa sawit di Indonesia yang tengah berjuang menghadapi fluktuasi harga.
- Harga CPO Diproyeksi Meningkat Hingga USD 1.783 pada Juni 2026 (4 April 2026)
- Harga CPO Berpotensi Naik Terkait Konflik Geopolitik, Harga Sawit Jambi Meningkat (27 Maret 2026)
- Harga TBS dan CPO di Jambi Meningkat Signifikan Awal April 2026 (3 April 2026)
- Harga CPO Naik Menjadi Rp16.050 per Kg, Proyeksi Kenaikan Berlanjut (31 Maret 2026)
Namun, di tengah ketidakpastian ini, Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) memproyeksikan tahun 2025 sebagai tahun yang menjanjikan bagi industri kelapa sawit. Dengan pasokan global yang diperkirakan ketat dan permintaan yang kuat, harga CPO diperkirakan akan stabil dengan rata-rata antara RM4.000 hingga RM4.300 per ton. Direktur Jenderal MPOB, Datuk Dr Ahmad Parveez Ghulam Kadir, menyatakan bahwa stok awal minyak sawit yang rendah menjadi faktor pendukung stabilitas harga di tahun ini.
RHB Investment Bank Bhd juga menambahkan bahwa harga CPO diharapkan tetap tinggi pada paruh pertama 2025, berkisar antara RM4.400 hingga RM4.800 per ton, sebelum diperkirakan akan moderat pada paruh kedua tahun ini. Peningkatan mandatori biodiesel di Indonesia dan pengetatan pasokan minyak bunga matahari dan rapeseed di pasar global menjadi faktor pendorong harga yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pelemahan harga jagung dan kedelai di pasar berjangka Chicago pada pertengahan Januari 2025, yang disebabkan oleh estimasi produksi yang lebih rendah dari perkiraan, menunjukkan dinamika pasar komoditas yang saling terkait. Hal ini bisa berdampak pada harga minyak nabati secara keseluruhan, termasuk CPO, mengingat kedelai dan minyak sawit merupakan komoditas yang bersaing di pasar minyak nabati global.
Dengan demikian, pelaku industri kelapa sawit di Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi volatilitas harga di awal tahun ini, sembari tetap optimis terhadap proyeksi jangka panjang yang menunjukkan potensi stabilitas harga di pasar global.
Sumber:
- Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Rabu (15 per 1), Harga CPO di Bursa Malaysia Lesu โ Info Sawit (2025-01-15)
- WD Pula Harga CPO Aan CPKO pada Tender PT KPBN Periode 15 Januari 2025 โ Media Perkebunan (2025-01-15)
- MPOB Perkirakan Pasokan Global Ketat, Dorong Harga Minyak Sawit Stabil di 2025 โ Info Sawit (2025-01-15)
- Harga CPO Diprediksi Tetap Tinggi pada Semester Pertama 2025 โ Info Sawit (2025-01-15)
- Harga Jagung dan Kedelai di Chicago Melemah Setelah Mencapai Level Tertinggi โ Info Sawit (2025-01-15)