DPR Dorong Stabilitas Harga Sawit di Tengah Lonjakan Devisa 2025

Gambar menunjukkan proses produksi biodiesel sawit dengan variasi campuran B40 dan B50 dari minyak kelapa sawit.
DPR meminta pemerintah stabilkan harga sawit, seiring lonjakan kontribusi devisa sawit 2025 yang mencapai US$35,868 miliar. Stabilitas harga sangat penting bagi petani.
(2026/04/07) Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, mendesak pemerintah untuk menstabilkan harga sawit seiring dengan penerapan bahan bakar campuran biodiesel B50 yang akan diberlakukan mulai 1 Juli 2026. Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) di beberapa wilayah, seperti Kalimantan Barat, berpotensi merugikan petani jika tidak ada tindakan preventif dari pemerintah.
Situasi ini menjadi perhatian utama karena ketidakpastian harga dapat menciptakan paradoks di saat negara berupaya memperbesar penyerapan sawit untuk ketahanan energi. Ratna menyatakan, "Situasi ini tidak boleh sampai memunculkan paradoks, ketika negara berupaya menyerap lebih banyak sawit untuk ketahanan energi, petani justru menghadapi ketidakpastian harga yang berpotensi merugikan," ujarnya. Ini menunjukkan pentingnya intervensi pemerintah untuk menjaga kestabilan harga agar petani tidak dirugikan.
Di sisi lain, industri sawit Indonesia mengalami lonjakan kontribusi devisa yang signifikan pada tahun 2025, meningkat 29,2% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai US$35,868 miliar atau sekitar Rp603 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa sawit tetap menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional, khususnya dalam konteks stabilitas ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Harga TBS dan CPO di Sumut Alami Kenaikan Signifikan Pekan Ini (1 April 2026)
- Harga CPO KPBN Naik 1,09% pada 1 April 2026, B50 Jadi Penyebab Utama (1 April 2026)
- Harga CPO KPBN Menguat di Tengah Ketidakpastian Global pada April 2026 (2 April 2026)
- Harga CPO Diprediksi Stabil Tinggi, Ekspor Sawit Terus Tumbuh di 2026 (5 April 2026)
Lonjakan kontribusi ini tentu memberikan kabar baik, namun juga menuntut kebijakan yang lebih strategis untuk mengubah kekuatan sawit menjadi fondasi bioekonomi modern yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku industri untuk memastikan bahwa pertumbuhan ini tidak hanya berfokus pada volume ekspor, tetapi juga pada nilai tambah yang dapat dihasilkan dari sektor sawit.
Ke depan, stabilitas harga sawit dan upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit akan menjadi kunci dalam menjaga kesejahteraan petani dan kelangsungan industri. Dengan adanya kebijakan yang tepat, diharapkan kontribusi sawit dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih besar bagi seluruh ekosistem industri dan masyarakat.
Melihat kondisi ini, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pemerintah akan menyeimbangkan antara peningkatan penyerapan sawit untuk bioenergi dengan kebutuhan untuk menjaga harga agar tetap menguntungkan bagi petani. Upaya ini menjadi krusial untuk masa depan industri sawit Indonesia.
Sumber: