Gapki: Perkuat Produktivitas dan Keberlanjutan untuk Menjaga Dominasi Sawit Indonesia

Logo GAPKI, organisasi pengusaha kelapa sawit Indonesia, memperkuat komitmen industri dalam keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya.
(2026/10/08) Gapki menekankan penguatan produktivitas, SDM, teknologi, dan integrasi kebijakan untuk menjaga pasokan sawit Indonesia di tengah keterbatasan ekspansi lahan.
(2026/10/08) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menekankan penguatan produktivitas, kualitas SDM, inovasi teknologi, dan integrasi kebijakan hulu-hilir sebagai upaya menjaga pasokan dan nilai tambah industri sawit nasional.
Gapki menilai langkah itu penting karena adanya keterbatasan ekspansi lahan; organisasi menyebut kontribusi Indonesia mencapai sekitar 49 juta metrik ton atau sekitar 58% dari total pasokan minyak kelapa sawit global dan 22% dari total pasokan minyak nabati dunia.
Bandung Sahari, Ketua Bidang Komunikasi Gapki, menyatakan industri sawit harus fokus pada produktivitas dan keberlanjutan agar mampu memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor sambil memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Ia mengatakan industri tersebut memiliki produk turunan yang digunakan untuk makanan hingga energi.
- Investasi Besar-Besaran untuk Pusat Pengolahan Avtur dari Jelantah (9 April 2026)
- Pengamat Ingatkan Risiko Ekspansi Koperasi Merah Putih ke Bisnis Sawit dan Tambang (29 Juli 2026)
- Hilirisasi Sawit Jadi Kekuatan Ekonomi: Dari Pabrik Margarine di Semarang hingga Kompleks Terpadu di Johor (18 September 2026)
- Indonesia Siap Bangun Industri Avtur Berbasis Sawit dengan Investasi Besar-Besaran (9 April 2026)
Gapki menyampaikan skenario pasokan yang disampaikan Bandung menunjukkan potensi defisit domestik jika produksi tidak bertumbuh signifikan; organisasi memperkirakan akan terjadi defisit suplai sebesar 27 juta metrik ton jika skenario tersebut terjadi dan area tanam tidak bertambah.
Organisasi juga mencatat dampak moratorium ekspansi lahan oleh sektor swasta terhadap pertumbuhan area tertanam, sehingga Gapki menilai bila area tertanam stagnan, maka CPO domestik perlu memiliki yield sekitar 5 metrik ton per hektare per tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Selain peningkatan produktivitas, Bandung menekankan pengendalian alih fungsi lahan secara ketat, pengembangan pusat pendidikan dan inovasi teknologi pertanian, serta konversi lahan yang terkontrol sebagai langkah untuk menjaga area produktif dan meningkatkan efisiensi operasional melalui teknologi tepat guna.
Dalam konteks pasar internasional, Gapki juga menyambut Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (I-EU CEPA) yang menurut keterangan sebelumnya membuka kuota ekspor ke Uni Eropa mulai 1,9 juta ton dengan penurunan bea masuk menjadi 0 persen dan kenaikan kuota 3% per tahun selama sembilan tahun, serta menyoroti kebutuhan kesiapan industri memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR).
Fadhil Hasan, Ketua Bidang Luar Negeri Gapki, menyampaikan pemanfaatan kuota I-EU CEPA bergantung pada kemampuan industri memenuhi ketentuan ketertelusuran kebun petani kecil dan penyelarasan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dengan sistem verifikasi Uni Eropa; Fadhil juga memperkirakan harga sawit pada 2027 masih berada pada level tinggi.
Gapki menyebut peremajaan sawit rakyat dan peningkatan produktivitas sebagai prioritas yang dapat dimanfaatkan selama harga masih tinggi, serta menekankan perlunya konektivitas antarlembaga untuk integrasi kebijakan dari hulu ke hilir guna mendukung pemenuhan standar keberlanjutan.
Sebagai langkah konkret, Gapki merekomendasikan pengembangan agrikultur maritim, peningkatan efisiensi operasional melalui adopsi teknologi, dan pendidikan vokasional untuk petani sebagai fondasi mencapai target jangka panjang industri dan dukungan terhadap target Indonesia Emas 2045.
Sumber: