BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Kebijakan Energi

GAPKI: Implementasi B50 Belum Ancam Ekspor Sawit Tahun Ini, BPS Minta Kajian Lanjutan

4 Agustus 2026|Implementasi B50 dan ekspor sawit
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
GAPKI: Implementasi B50 Belum Ancam Ekspor Sawit Tahun Ini, BPS Minta Kajian Lanjutan

Logo GAPKI, organisasi pengusaha kelapa sawit Indonesia, memperkuat komitmen industri dalam keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya.

(2026/08/04) GAPKI menilai implementasi B50 belum mengurangi ekspor CPO 2026 meski BPS memperingatkan potensi tekanan di semester II.

(2026/08/04) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai implementasi mandatori biodiesel 50% (B50) yang mulai Juli 2026 belum akan memangkas volume ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia tahun ini.

GAPKI memproyeksikan tambahan kebutuhan CPO untuk B50 pada 2026 hanya sekitar 1,5 juta ton, dan pelaksanaannya yang memasuki masa transisi dua bulan membuat realisasi kebutuhan itu berpotensi lebih rendah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan "Kalau tahun 2026 ini seharusnya belum mengurangi volume ekspor, sebab penambahan kebutuhan bahan baku CPO maksimum sekitar 1,5 juta ton, bahkan kemungkinan kurang karena ada masa transisi dua bulan, jadi belum full dilaksanakan."

Eddy juga menyebut total kebutuhan bahan baku CPO untuk program biodiesel sepanjang 2026 diperkirakan mencapai sekitar 14,5 juta ton dan menyatakan volume tersebut masih dapat dipenuhi dari produksi nasional sehingga belum memberikan tekanan terhadap ekspor.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan pandangan berbeda dalam nuansa kehati-hatian; Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menilai penerapan B50 "cenderung berpotensi akan mempengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia khususnya nanti pada semester II di tahun 2026."

Ateng Hartono mengatakan besarnya dampak B50 terhadap kinerja ekspor masih memerlukan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan variabel seperti stabilitas produksi, persediaan stok, lonjakan permintaan domestik, dan pergerakan harga sawit di pasar lokal maupun internasional.

BPS mencatat kinerja ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang semester I-2026 masih tumbuh 7,32% secara kumulatif, namun laju pertumbuhan itu melambat dibandingkan 24,80% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

GAPKI juga mengingatkan faktor lain yang menahan peningkatan produksi; Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI Lolita Bangun memperkirakan produksi sawit nasional sepanjang 2026 tumbuh kurang dari 2% akibat dampak El Niño sejak Mei 2026, penurunan kualitas agronomis, dan program peremajaan kebun.

Kontestasi proyeksi kebutuhan untuk B50 turut muncul di laporan yang menyebut penerapan B50 meningkatkan kebutuhan CPO sekitar 1,9 juta ton dibandingkan alokasi B40 sebelumnya, sehingga total kebutuhan B50 diperkirakan mencapai sekitar 14,6 juta ton menurut penghitungan lain yang dikutip media.

Peraturan pelaksanaan B50 dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, dan pemerintah memproyeksi kebijakan itu mampu menghemat devisa hingga Rp 170 triliun, menurut rilis terkait peluncuran kebijakan oleh pemerintah.

Para pelaku industri dan pemerintah akan mengamati data produksi, stok, dan ekspor pada rilis berikutnya untuk mengukur efek nyata B50 terhadap volume ekspor CPO pada semester II-2026, sesuai pengamatan BPS yang meminta kajian lebih lanjut.

Sumber: