Pasokan Terpangkas, Harga CPO Berpotensi Menyalip Minyak Kedelai pada 2027

Deretan drum biodiesel dan tangki blending di fasilitas industri dengan jerigen BBM impor yang disingkirkan, melambangkan substitusi bahan bakar impor oleh biodiesel sawit dalam negeri.
(2026/10/01) Produksi sawit Indonesia diproyeksikan turun 3,7% pada 2027 sementara kebutuhan biodiesel melonjak 18,5%, menekan pasokan ekspor dan mendorong peluang kenaikan harga CPO.
(2026/10/01) Produksi sawit Indonesia diproyeksikan turun 3,7% pada 2027 menjadi 56,6 juta ton, sementara kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel diproyeksikan naik 18,5% menjadi 17,4 juta ton.
Proyeksi tersebut menempatkan tekanan pada pasokan ekspor yang diperkirakan turun 14,9% menjadi 26,5 juta ton pada 2027, level terendah sejak 2016, sehingga pasar internasional berpotensi mengalami penyempitan stok yang mendukung kenaikan harga CPO pada tahun depan.
Konteks jangka pendek menunjukkan sentimen negatif: data Refinitiv mencatat harga CPO pada Rabu 30 September 2026 pukul 16.16 WIB berada di MYR 4.592 per ton, melemah 0,7% dan merupakan level terendah sejak 17 Juli 2026 setelah empat hari berturut-turut turun.
- Harga TBS Sumut Mendekati Rp4.000, Seruan Tarif Toleransi Mengemuka (23 Juli 2026)
- Harga CPO KPBN Turun; Bursa Malaysia Melemah karena Kekhawatiran Stok dan Ekspor Lesu (24 September 2026)
- Pelajaran Pahit Harga Sawit: Petani Pernah Terjun ke Rp500/kg saat Moratorium Ekspor 2022 (13 Juni 2026)
- Kemendag Tetapkan Harga Referensi CPO Agustus 2026 USD996,52/MT, BK dan PE Disesuaikan (1 Agustus 2026)
CNBC mengutip pernyataan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono yang menyatakan cuaca kering akibat El Niño berpotensi menekan produksi tahun depan. Eddy Martono juga memperkirakan produksi 2027 sebesar 56,6 juta ton dan kebutuhan biodiesel 17,4 juta ton, angka yang menjadi dasar proyeksi penyempitan pasokan ekspor.
Tekanan harga jangka pendek juga dipengaruhi oleh korelasi dengan minyak nabati lain: di Bursa Dalian kontrak minyak sawit melemah 1,14% sementara kontrak minyak kedelai teraktif turun 0,09%; Chicago Board of Trade melaporkan minyak kedelai naik 0,44%, sehingga pergerakan pesaing turut memengaruhi harga CPO.
Survei ekspor yang dikutip menunjukkan estimasi Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia bahwa ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-25 September turun sekitar 15,1%-24,3% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya, dan persediaan pada akhir Agustus mencapai level tertinggi dalam delapan bulan, menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC.
Sawit Setara menambahkan konteks volume global: laporan produksi 2025/2026 mencatat kontribusi Indonesia sekitar 58% atau 46,7 juta ton, dan Malaysia 25% atau 20,2 juta ton, sehingga perubahan output Indonesia dapat langsung mengubah keseimbangan pasokan minyak nabati dunia.
Perubahan alokasi domestic untuk biodiesel berarti sebagian produksi yang sebelumnya untuk ekspor akan terserap di dalam negeri; proyeksi ekspor 26,5 juta ton pada 2027 jika terealisasi menjadi yang terendah sejak 2016 dan memperkecil pasokan bersih ke pasar internasional.
Di pasar spot, Refinitiv mencatat penurunan harga CPO ke MYR 4.592 per ton pada 30 September 2026; catatan historis lain dalam laporan menunjukkan harga CPO melemah empat hari beruntun sebelum tanggal tersebut, menandakan tekanan stok jangka pendek meski prospek 2027 lebih ketat.
Rincian risiko pasokan yang disebutkan sumber adalah kombinasi cuaca kering El Niño dan kebijakan domestik yang meningkatkan penyerapan sawit untuk biodiesel; GAPKI lewat Eddy Martono menjadi rujukan utama untuk angka produksi dan konsumsi biodiesel yang dipakai dalam proyeksi ini.
Agenda dan katalis ke depan yang disebutkan dalam sumber meliputi perkembangan prakiraan cuaca El Niño sepanjang 2027 dan rilis data produksi dan ekspor bulanan Indonesia-Malaysia; data stok akhir bulan Malaysia dan laporan pengapalan akan menjadi indikator berikutnya untuk tekanan harga jangka pendek.
Sumber: