Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Didorong Permintaan Global

Petani sedang memanen tandan buah segar (TBS) sawit di perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Kenaikan harga TBS kelapa sawit di Sumatera Selatan dipicu oleh permintaan yang meningkat dari Tiongkok dan penurunan produksi di Malaysia.
Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan menjadi sorotan utama di kalangan petani dan pelaku industri. Pada bulan Februari 2024, harga TBS mengalami lonjakan signifikan menjadi Rp 2.533 per kilogram, meningkat sebesar Rp 119 per kilogram dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut Rudi Arpian, Analis PSP Ahli Madya Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, peningkatan ini dipengaruhi oleh situasi pasar global yang semakin menguntungkan bagi produsen kelapa sawit.
Permintaan minyak sawit dari Tiongkok, sebagai salah satu importir utama, menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga. Rudi menjelaskan, pembelian aktif dari importir besar Tiongkok bertujuan untuk menambah cadangan mereka, sehingga menambah tekanan positif terhadap harga TBS di pasar. “Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya peran pasar internasional dalam menentukan harga komoditas kita,” ujarnya.
Di sisi lain, situasi di Malaysia, yang merupakan pesaing utama dalam produksi minyak sawit, juga berkontribusi pada kenaikan harga TBS. Penurunan produksi di Malaysia akibat faktor cuaca dan penyakit tanaman membuat pasokan global menjadi lebih ketat, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit Indonesia di pasar internasional. Hal ini menciptakan peluang bagi petani kelapa sawit di Indonesia untuk mendapatkan harga yang lebih baik.
- Harga CPO KPBN Naik 1,09% pada 1 April 2026, B50 Jadi Penyebab Utama (1 April 2026)
- Kinerja CPO Positif 2026, Petani Minta Cangkang Dihitung dalam Harga (29 Maret 2026)
- Harga TBS dan CPO di Sumut Alami Kenaikan Signifikan Pekan Ini (1 April 2026)
- Harga Sawit di Sumut dan Aceh Naik, CPO Referensi April 2026 Meningkat (1 April 2026)
Namun, meskipun harga TBS mengalami kenaikan, tantangan tetap ada. Petani harus tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang dapat terjadi akibat berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan perdagangan dari negara-negara pengimpor. Selain itu, keberlanjutan produksi dan praktik pertanian yang baik juga menjadi perhatian utama untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen di masa depan.
Dengan perkembangan ini, diharapkan para petani kelapa sawit di Sumatera Selatan dapat memanfaatkan momen kenaikan harga ini untuk meningkatkan pendapatan mereka. Pemerintah daerah juga diharapkan untuk terus mendukung petani melalui program pelatihan dan bantuan teknis, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan perubahan pasar dan meningkatkan daya saing produk kelapa sawit Indonesia di kancah global.
Sumber:
- Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Menyusul Permintaan... — Hai Sawit (2024-02-14)