Harga CPO Turun, Ekspor Diprediksi Menurun, Saham Emiten Sawit Berubah

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan, dengan prediksi ekspor yang menurun hingga 10% untuk tahun ini. Sementara itu, transaksi saham emiten sawit menunjukkan dinamika yang menarik.
Harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia mengalami penurunan di awal tahun 2025. PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom mencatatkan harga CPO pada Jumat (17/1/2025) turun sebesar 0,93% menjadi Rp 13.585/kg. Penurunan ini terjadi setelah harga tertinggi sebelumnya mencapai Rp 13.712/kg pada Kamis (16/1/2025). Untuk periode mingguan, harga CPO juga tercatat turun 0,52% menjadi Rp 13.914,40/kg dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Di sisi lain, prediksi untuk ekspor CPO Indonesia di tahun 2025 tidak begitu cerah. Ekspor diperkirakan bisa turun hingga 10% dibandingkan tahun 2024. Meskipun demikian, harga CPO diprediksi memiliki potensi untuk meningkat. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) meramalkan peningkatan pada ekspor minyak kedelai yang dapat mempengaruhi dinamika pasar minyak nabati, termasuk CPO. Harga CPO di Malaysia pada 16 Januari 2025 tercatat RM4.617 per ton, meskipun mengalami penurunan dari hari sebelumnya.
Potensi kenaikan harga ini didorong oleh pelaksanaan program mandatori bahan bakar nabati (BBN) biodiesel 40% (B40) yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap CPO. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong penggunaan energi terbarukan, yang sejalan dengan tren global terhadap keberlanjutan.
Sementara itu, di tengah fluktuasi harga dan ekspor, dinamika pasar saham emiten sawit juga menarik perhatian. PT Pradiksi Gunatama Tbk. yang dimiliki oleh konglomerat Haji Isam, mengalami transaksi signifikan di pasar saham. Corporate Secretary Muhammad Reza melakukan pembelian 440.562.500 lembar saham PGUN pada harga Rp 800 per saham, meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 968.262.500 lembar. Di sisi lain, Direktur Tamlikho melepas sejumlah sahamnya dengan tujuan investasi yang berbeda.
Dalam konteks ini, meskipun harga CPO mengalami penurunan, aktivitas di pasar saham emiten sawit tetap menunjukkan potensi untuk investasi. Para pelaku pasar harus tetap waspada dan memperhatikan perkembangan harga dan kebijakan yang dapat mempengaruhi prospek industri kelapa sawit ke depannya. Kenaikan harga yang mungkin terjadi akibat program biodiesel dan pengurangan ekspor bisa menjadi indikator penting bagi investor dan stakeholder di sektor ini.
Sumber:
- Harga CPO KPBN Inacom Turun 0,93 Persen Pada Jumat (17 per 1), Harga CPO Mingguan Turun 0,52 Persen โ Info Sawit (2025-01-18)
- Ekspor CPO RI Diramal Jatuh, Tapi Harga Bisa Meroket Lagi ke RM5.000 โ CNBC (2025-01-18)
- Sosok Ini Borong Saham Emiten Sawit Haji Isam โ CNBC (2025-01-18)