Harga CPO dan Minyakita Turun di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Lonjakan Harga Energi

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.
Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami lonjakan sementara minyak goreng rakyat (Minyakita) berangsur turun, mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor global dan domestik.
Harga minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia menunjukkan tren positif dengan lonjakan signifikan pada tengah bulan ini, seiring dengan ketegangan geopolitik yang melibatkan Israel dan Iran. Lonjakan harga ini berimbas pada sektor komoditas lainnya, termasuk minyak kedelai, yang turut meningkat akibat proposal baru dari Badan Perlindungan Lingkungan AS.
Harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) ditetapkan mencapai Rp 13.600 per kilogram pada 16 Juni 2025, meningkat 1,8% atau sekitar Rp 240 dari harga sebelumnya. Kenaikan harga ini dipicu oleh penguatan harga minyak kedelai di pasar global, setelah AS mengusulkan peningkatan pencampuran biofuel ke dalam bahan bakar konvensional, memicu harapan akan permintaan yang lebih tinggi terhadap produk nabati.
Sementara itu, di pasar global, harga minyak mentah Brent juga mengalami lonjakan sekitar 7% akibat konflik antara Israel dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini menciptakan dampak domino di pasar komoditas, termasuk CPO yang kini menembus 4.000 ringgit per ton. Lonjakan harga CPO ini menjadi sorotan utama, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang mempengaruhi semua sektor energi.
- Harga CPO Tembus Rp15.600 di Tengah Penahanan Pembelian India (27 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit Sumut Mencapai Rp4.059,20 per Kg pada Awal April 2026 (3 April 2026)
- Harga CPO Naik Menjadi Rp16.050 per Kg, Proyeksi Kenaikan Berlanjut (31 Maret 2026)
- Harga CPO KPBN Naik 1,09% pada 1 April 2026, B50 Jadi Penyebab Utama (1 April 2026)
Di sisi lain, harga minyak goreng rakyat (Minyakita) menunjukkan tren penurunan. Kementerian Perdagangan melaporkan bahwa harga rata-rata nasional Minyakita per 15 Juni 2025 adalah Rp 16.809 per liter, meskipun masih di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar 7%. Penurunan harga ini terjadi setelah seminggu sebelumnya mengalami penurunan sebesar 0,11%. Meskipun harga masih lebih tinggi dari HET, penurunan secara bertahap ini mencerminkan upaya pemerintah dalam menstabilkan harga minyak goreng di pasar domestik.
Sejalan dengan perkembangan harga energi, sektor biomassa Indonesia juga mencatatkan keberhasilan. Produk cangkang inti sawit (PKS) dan pelet kayu berhasil meraup transaksi sebesar Rp 1,04 triliun dalam forum bisnis di Osaka, Jepang. Komitmen dari perusahaan Jepang untuk mengimpor 640 ribu ton PKS mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap sumber energi terbarukan di negara tersebut, terutama menjelang transisi menuju kendaraan listrik pada 2035.
Dengan berbagai dinamika ini, sektor kelapa sawit Indonesia tetap menghadapi tantangan dan peluang. Lonjakan harga CPO memberikan harapan bagi petani dan produsen, sementara penurunan harga Minyakita menunjukkan pentingnya pengawasan dan penyesuaian yang tepat dari pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar. Di tengah ketegangan global, ketahanan dan adaptasi sektor kelapa sawit menjadi kunci untuk menghadapi masa depan yang tak terduga.
Sumber:
- Harga Minyakita Berangsur Turun โ Sawit Indonesia (2025-06-16)
- Tender PT KPBN Periode 16 Juni 2025: Sebelumnya Naik Rp 135, Kini Harga CPO Naik Rp 240! โ Media Perkebunan (2025-06-16)
- Harga Minyak Mentah Melonjak Imbas Serangan Israel-Iran, Nikel Turun Tipis โ Kumparan (2025-06-16)
- Harga CPO Tembus 4.000 Ringgit per Ton, Mengikuti Reli Harga Minyak Kedelai โ Bisnis Indonesia (2025-06-16)
- Cangkang Inti Sawit Meraup Transaksi Rp1,04 Triliun di Osaka โ Sawit Indonesia (2025-06-16)
- Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,8 Persen Pada Senin (16 per 6), Harga CPO di Bursa Malaysia Meningkat โ Info Sawit (2025-06-16)