BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga CPO Naik Menjadi Rp16.050 per Kg, Proyeksi Kenaikan Berlanjut

31 Maret 2026|Harga CPO dan saham DSNG-SIMP
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Naik Menjadi Rp16.050 per Kg, Proyeksi Kenaikan Berlanjut

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.

Harga crude palm oil (CPO) domestik mencapai Rp16.050 per kg, seiring proyeksi kenaikan harga CPO global dan sentimen positif dari kebijakan biodiesel B50.

(2026/03/31) Indonesia menyaksikan lonjakan harga crude palm oil (CPO) pada 31 Maret 2026, mencapai Rp16.050 per kg. Kenaikan ini mencerminkan optimisme di pasar, didorong oleh proyeksi harga global yang menguat dan kebijakan biodiesel B50.

Harga CPO domestik yang tercatat pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami kenaikan Rp200 per kg dari sebelumnya Rp15.850 per kg pada 30 Maret 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, dengan harga yang terakhir kali melampaui Rp16.000 per kg pada Desember 2024. Di sisi lain, perdagangan CPO di Bursa Malaysia mengalami pelemahan, meskipun tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam empat tahun.

Sejalan dengan kenaikan harga CPO domestik, saham-saham perusahaan perkebunan kelapa sawit juga mencatat penguatan signifikan. Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) misalnya, melonjak 8,44 persen ke Rp1.735 per unit, sementara PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) masing-masing mengalami kenaikan 9,19 persen dan 8,94 persen. Sentimen positif ini dipicu oleh kebijakan biodiesel B50 yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik terhadap minyak sawit.

Menurut laporan dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), harga CPO global diproyeksikan akan naik tajam pada triwulan II 2026, dari sekitar US$1.165 per ton pada Maret menjadi US$1.440 per ton pada April. Lonjakan ini diharapkan berlanjut hingga mencapai US$1.783 per ton pada Juni 2026, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Proyeksi ini berpotensi mengubah dinamika ekspor minyak sawit Indonesia, yang dapat meningkatkan pungutan ekspor dan bea keluar di tengah situasi pasar global yang tidak menentu. IPOSS menyampaikan bahwa proyeksi harga referensi CPO pada triwulan II 2026 akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dan perubahan dalam permintaan global.

Industri sawit Indonesia kini harus bersiap menghadapi tantangan dan peluang yang muncul dari perubahan harga ini. Apakah kebijakan dan strategi yang ada cukup untuk memanfaatkan momentum ini dalam jangka panjang? Membangun ketahanan dan keberlanjutan dalam industri sawit akan semakin penting di tengah fluktuasi harga yang cepat dan ketidakpastian pasar global.

Sumber: