Harga CPO Turun 2,86% di Bursa Malaysia dan KPBN pada 25 Maret 2026

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.
Harga CPO mengalami penurunan signifikan pada 25 Maret 2026, turun 2,86% di KPBN dan tertekan di Bursa Malaysia, mempengaruhi pasar sawit Indonesia.
(2026/03/25) Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan tajam pada Rabu (25/3/2026), dengan penawaran tertinggi di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat Rp 15.373/kg, turun Rp 452/kg atau 2,86% dibandingkan harga sebelumnya. Di Bursa Malaysia, harga CPO juga ditutup melemah, menambah tekanan pada industri sawit Indonesia.
Penurunan harga CPO ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar global dan faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap fluktuasi harga. Selama periode ini, harga CPO Franco Dumai dibuka pada level Rp 15.600/kg tetapi mengalami withdraw dengan harga tertinggi Rp 15.373/kg. Sementara itu, harga CPO Franco Teluk Bayur dibuka pada Rp 15.470/kg dan juga mengalami penurunan menjadi Rp 15.205/kg.
Data dari KPBN menunjukkan bahwa harga CPO mengalami penurunan yang konsisten dalam beberapa minggu terakhir, terutama pada bulan Maret 2026. Sebelumnya, harga CPO pada 17 Maret 2026 mencapai Rp 15.825/kg, sebelum turun ke level saat ini. Penurunan ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh industri sawit, terutama dalam konteks persaingan global dan permintaan yang berfluktuasi.
- Harga TBS Sawit Melorot di Sumut dan Naik di Kalbar Pasca Lebaran (26 Maret 2026)
- Harga Sawit Jambi Mencapai Rp3.669 per Kg di Pabrik (30 Maret 2026)
- Harga CPO dan TBS Sawit di Sumut Turun, Proyeksi Masa Depan Menarik (25 Maret 2026)
- Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026 (5 April 2026)
Dari sisi perdagangan internasional, harga CPO di Bursa Malaysia juga menunjukkan tren serupa. Penutupan harga CPO di bursa tersebut pada hari yang sama mengindikasikan adanya tekanan dari pasar global. Penyebab utama pelemahan ini dapat dikaitkan dengan situasi permintaan yang tidak menentu dari negara-negara pengimpor utama, termasuk India dan Tiongkok, yang mengikuti perkembangan harga komoditas energi dan pangan.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia perlu beradaptasi dengan perubahan pasar dan mencari strategi baru untuk meningkatkan daya saing. Para analis memperkirakan bahwa jika tren penurunan ini berlanjut, akan ada dampak pada pendapatan petani dan perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok sawit. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku di sektor ini untuk memantau perkembangan harga dan menyesuaikan kebijakan produksi serta pemasaran mereka.
Dalam konteks ini, Kepala Asosiasi Petani Sawit Indonesia mengungkapkan, "Kami berharap pihak pemerintah dapat segera memberikan dukungan dan insentif guna menjaga stabilitas harga CPO, sehingga tidak merugikan para petani yang bergantung pada komoditas ini." Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga CPO mengalami penurunan, masih ada harapan untuk memperbaiki kondisi pasar dengan kolaborasi antara pemerintah dan industri.
Sumber: