BPDP dan Ditjenbun Tunjuk Lembaga Pelatihan Yogyakarta untuk Tingkatkan Kompetensi Pekebun Sawit

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.
BPDP dan Ditjenbun tunjuk LPP Agro Nusantara selenggarakan 100 kelas pelatihan untuk 3.035 pekebun di tujuh provinsi sepanjang 2026.
(2026/07/22) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjuk LPP Agro Nusantara di Yogyakarta untuk menyelenggarakan pelatihan peningkatan kompetensi pekebun swadaya, dengan target 100 kelas dan 3.035 peserta sepanjang 2026.
Penunjukan itu dimaksudkan untuk mengatasi disparitas produktivitas antara pekebun swadaya dan pengelola lain: menurut Direktur LPP Agro Nusantara Pranoto Hadi Raharjo, pekebun swadaya mengelola 40% lahan sawit di 26 provinsi namun hanya menyumbang 30-35% dari produksi CPO nasional, sehingga pemerataan keterampilan menjadi fokus program.
Rencana pelatihan tersebar di tujuh provinsi yakni Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Target 100 kelas dengan total 3.035 peserta pada 2026 meningkat dari capaian 2025 yang tercatat 68 kelas dan 2.066 peserta, menandakan perluasan jangkauan program tahun ini.
- Perkenalan Serangga Penyerbuk Baru Tingkatkan Produktivitas Sawit Indonesia (10 April 2026)
- Harga TBS Riau Naik Mingguan; TBS Plasma Capai Rp3.930,55/kg, Swadaya Rp3.846/kg (22 Juli 2026)
- Togu Saragih: Kemitraan Jadi Pilar Utama untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Sawit (2 Juli 2026)
- Peningkatan dan Penurunan Harga TBS Sawit di Berbagai Provinsi April 2026 (16 April 2026)
Salah satu kegiatan pelatihan telah dilaksanakan pada 14-19 Juli 2026 bertajuk "Pelatihan Budidaya Sawit" di Le Polonia Hotel & Convention, Medan, yang diikuti 87 pekebun dari kabupaten Asahan dan Batubara. Materi pelatihan difokuskan pada budidaya sawit yang baik dan berkelanjutan serta kesiapan data lahan untuk akses PSR, pembiayaan, dan sertifikasi.
Pranoto Hadi Raharjo menyatakan bahwa kesenjangan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah, dan oleh karena itu pelatihan diarahkan untuk menaikkan keterampilan teknis pekebun serta kemampuan administrasi lahan. Materi mencakup pencatatan data lahan yang diperlukan untuk program seperti PSR serta syarat-syarat pembiayaan dan sertifikasi yang dapat membuka akses pasar bagi pekebun swadaya.
Pelaksanaan pelatihan LPP Agro Nusantara juga diposisikan untuk mendukung upaya regulator dan badan dana dalam meningkatkan kualitas pasokan sawit domestik. Meskipun laporan ini tidak mencantumkan angka produksi atau harga CPO terbaru, catatan internal program menunjukkan kenaikan jumlah peserta dibanding tahun sebelumnya dari 2.066 menjadi target 3.035 peserta, dan peningkatan kelas dari 68 menjadi 100 kelas sebagai tolok ukur perluasan kegiatan.
Jadwal pelatihan sepanjang 2026 dibagi antar tujuh provinsi yang disebutkan, dengan sesi pertama sudah berlangsung di Sumatera Utara pada pertengahan Juli; penyelenggara merencanakan rangkaian kelas berikutnya di provinsi-provinsi lain sesuai target yang ditetapkan. Program ini juga menargetkan peningkatan kesiapan pekebun untuk mengakses pembiayaan dan sertifikasi yang dapat meningkatkan kontribusi pekebun swadaya terhadap produksi nasional.
Sumber: