BPDP dan Ditjenbun Dorong Pekebun Rokan Hilir Naik Kelas lewat Pelatihan Budidaya Sawit

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.
BPDP, Ditjenbun dan PT SIB menggelar pelatihan sawit untuk 124 peserta; fokus peningkatan produktivitas, pengelolaan lahan terbatas, dan keberlanjutan lingkungan.
(2026/08/31) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya menggelar serangkaian Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit bagi pekebun Rokan Hilir untuk meningkatkan kapasitas teknis dan manajerial pekebun daerah itu.
Kegiatan pelatihan berlangsung 31 Agustus–5 September 2026 dan mencakup Angkatan X sampai XIII, dengan total 124 peserta yang terbagi dalam empat kelas, masing-masing 31 peserta, menurut laporan kegiatan.
Pelatihan diinisiasi sebagai bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung BPDP dan Ditjenbun serta dilaksanakan PT SIB; peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan pada 4 September 2026 ke Gapoktan Manunggal Sakti, Kampung Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau.
- 91 Pekebun OKU Ikuti Pelatihan Budidaya Sawit untuk Dongkrak Produktivitas (5 Agustus 2026)
- Harga TBS Riau Naik Mingguan; TBS Plasma Capai Rp3.930,55/kg, Swadaya Rp3.846/kg (22 Juli 2026)
- Harga TBS Kemitraan Swadaya Riau Turun Rp40,50/kg pada Periode 19–25 Agustus 2026 (20 Agustus 2026)
- 111 Pekebun Inhil Ikuti Pelatihan Pupuk Organik Didanai BPDP, Fokus Biochar dan POC/POP (28 Juli 2026)
Latar belakang dan tujuan program
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi kunci untuk mendorong produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat, karena lahan yang sama bisa memberi hasil berbeda bila dikelola dengan pengetahuan dan manajemen berbeda.
Supriadi menekankan bahwa pekebun tidak cukup hanya memiliki lahan: mereka harus memahami pemilihan bahan tanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian gulma dan hama, serta manajemen panen agar produksi meningkat; "Yang diwajibkan kepada kita itu adalah ikhtiar bagaimana insyaallah produksi meningkat melalui peningkatan dan perbaikan budidaya," ujarnya.
Pesan praktis lain dari pembukaan pelatihan adalah pentingnya memandang kebun sebagai unit usaha: Supriadi memberi contoh bahwa kebun seluas dua sampai lima hektare yang dikelola optimal dapat memberi potensi ekonomi besar dan bahkan "gaji dan tunjangan kadis itu tidak ada apa-apanya," kata Supriadi, mendorong peserta agar ilmu tidak berhenti hanya di ruang kelas.
Menjawab keterbatasan lahan dengan produktivitas
Beberapa liputan menyorot keterbatasan lahan sebagai alasan utama program: Supriadi mengatakan kebutuhan produk kelapa sawit terus meningkat sementara ruang membuka perkebunan baru semakin terbatas, sehingga peningkatan produktivitas menjadi jalan utama bagi pekebun untuk menjaga pendapatan.
Pelatihan menyasar perubahan cara pandang pengelolaan kebun dari bergantung pada kondisi alam menjadi penerapan teknik budidaya yang benar dan konsisten; Supriadi memperingatkan pekebun agar tidak mudah menjual lahan mereka dan mengajak peserta menerapkan pengetahuan di lapangan untuk meningkatkan hasil dari lahan yang ada.
Rangkaian kegiatan juga memuat kunjungan lapangan ke Gapoktan Manunggal Sakti—agenda konkret pada 4 September 2026—sebagai sarana transfer praktik lapangan untuk memperlihatkan contoh pengelolaan kebun yang lebih terukur.
Keberlanjutan, tata kelola kawasan, dan integrasi usaha
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Rokan Hilir Cicik Mawardi Athar menyorot aspek lingkungan dan kepastian kawasan sebagai isu penting; menurutnya, "hampir lebih daripada 50 persen daerah sawit, terutama sawit-sawit masyarakat ini di dalam kawasan hutan," sehingga perlu perhatian khusus agar masyarakat memperoleh kepastian pengelolaan sekaligus menjaga fungsi lingkungan.
Cicik mengusulkan penelitian dan perencanaan khusus untuk model pengelolaan sawit yang sesuai kondisi lokal serta mendorong diversifikasi usaha, termasuk integrasi sawit dengan peternakan; ia menyebut pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk organik sebagai contoh sinergi yang bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk komersial.
Dalam pembicaraan terkait keberlanjutan, pelatihan diposisikan bukan sekadar mengejar produksi TBS, melainkan menggabungkan aspek tata kelola kawasan dan optimalisasi sumber daya lokal agar sawit tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Pelatihan Angkatan X–XIII yang melibatkan 124 peserta dan kunjungan lapangan menjadi langkah operasional untuk menerjemahkan konsep ke praktik; panitia menekankan peserta yang hadir harus menjadi pionir dan menyebarluaskan ilmu ke pekebun lain agar dampak program meluas.
Sumber:
- Kualitas SDM Jadi Kunci, BPDP Dukung Pekebun Sawit Rokan Hilir Lebih Profesional — Hortus
- Atasi Lahan Terbatas, BPDP, Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan Sawit Pekebun Rokan Hilir — Hortus
- Tingkatkan Produktivitas, BPDP, Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan Budidaya Sawit Pekebun Rokan Hilir — Hortus
- Sawit Berkelanjutan Jadi Penopang Ekonomi, BPDP Dorong Pekebun Rokan Hilir Naik Kelas — Hortus
- Atasi Berbagai Tantangan, BPDP, Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan Budidaya Sawit Pekebun Rokan... — Hortus