BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Budidaya & Agronomi

91 Pekebun OKU Ikuti Pelatihan Budidaya Sawit untuk Dongkrak Produktivitas

5 Agustus 2026|Pelatihan Budidaya Sawit Jadi
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
91 Pekebun OKU Ikuti Pelatihan Budidaya Sawit untuk Dongkrak Produktivitas

Petani sawit mengikuti pelatihan di kebun sawit untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas mereka.

Dinas Pertanian OKU mengirim 91 pekebun ke pelatihan BPDP–Ditjen Perkebunan agar teknik budidaya, bibit, dan infrastruktur diperbaiki untuk meningkatkan produksi sawit lokal.

(2026/08/05) “Perkembangannya cukup pesat, tetapi produktivitas masih harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan daerah lain,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Komering Ulu, Joni Saihu, tentang kondisi perkebunan sawit di wilayahnya.

Pernyataan Joni disampaikan menyusul pengiriman 91 peserta pekebun OKU ke Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan XXI, XXII, dan XXIII yang berlangsung 28 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Sumatera Selatan.

Menurut rincian program, pelatihan merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training sebagai penyelenggara, dengan kombinasi teori, diskusi, praktikum, dan kunjungan lapang yang diklaim bertujuan membangun pemahaman budidaya produktif sekaligus terukur.

“Ada tiga faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya sawit, yakni kesesuaian lahan, penggunaan bibit unggul, serta pemeliharaan dan pemupukan yang tepat,” ungkap narasumber IPB Training, Prof. Dr. Ir. Suwardi, M.Agr, saat menjelaskan desain materi pelatihan yang diterima peserta.

Joni merinci konteks kebutuhan pelatihan: luas perkebunan sawit OKU yang saat ia mulai menjabat pada 2022 sekitar 1.000 hektare kini meningkat menjadi sekitar 7.000 hektare, sementara produksi tercatat sekitar 6.100 ton pada 2024 dan naik menjadi 12.120 ton pada 2025. Lonjakan areal dan produksi itu mendorong fokus peningkatan produktivitas per hektare.

Meski terjadi kenaikan luas dan produksi, kendala konkret disebut Joni menjadi pembatas. Ia menyebut infrastruktur jalan menuju kebun belum memadai sehingga distribusi hasil panen sering terhambat, serta mayoritas pekebun hanya memiliki lahan satu hingga dua hektare sehingga kemampuan investasi terbatas.

Masalah lain yang diangkat dalam pelatihan adalah soal bibit. Berita menyebut keterbatasan modal membuat sebagian pekebun belum mampu membeli bibit unggul bersertifikat dan masih memakai bibit dengan mutu belum terjamin; materi pelatihan memfokuskan pada pemilihan bibit, pengelolaan kebun, penguatan kelembagaan, dan strategi pemasaran agar peserta dapat menerapkan teknik budidaya yang lebih baik.

Program pelatihan juga memanfaatkan praktik lapangan, termasuk kunjungan ke PPK Sembawa, untuk memastikan transfer teknologi bukan hanya teori di kelas. Penyelenggara menyusun materi bertahap mulai dari persiapan benih hingga pengendalian hama dan penyakit agar pekebun memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.

Sumber: