BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Diplomasi & Negosiasi

Tajikistan Sebagai Pintu Gerbang Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Eropa

22 Februari 2026|Ekspor minyak sawit Indonesia
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Tajikistan Sebagai Pintu Gerbang Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Eropa

Prabowo memberikan pidato terkait industri kelapa sawit Indonesia menjelang pemilu 2026, menekankan pentingnya keberlanjutan sawit.

Indonesia menjajaki kerjasama strategis dengan Tajikistan untuk memperluas pasar ekspor minyak sawit, di tengah penurunan ekspor ke negara-negara tradisional seperti India dan China.

Indonesia tengah menjajaki peluang baru dalam ekspor minyak sawit dengan menjadikan Tajikistan sebagai pintu gerbang menuju pasar Eropa. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyatakan bahwa kerja sama perdagangan dengan Tajikistan dapat menguntungkan tidak hanya bagi Asia Tengah, tetapi juga bagi pasar Eropa yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk kelapa sawit.

Dalam sebuah pertemuan dengan Duta Besar Tajikistan untuk Indonesia, H.E. Ardasher Qodiri, Anindya menekankan pentingnya peran Tajikistan sebagai mitra strategis. Menurutnya, pertemuan ini bertujuan untuk membahas potensi perluasan pasar Curde Palm Oil (CPO) melalui jalur perdagangan yang lebih efisien. “Tajikistan bisa menjadi mitra kita di Asia Tengah untuk mengakses pasar di sekitarnya dan pasar di Eropa,” ungkap Anindya di Menara Kadin, Jakarta.

Namun, tantangan masih menyelimuti industri kelapa sawit Indonesia. Ekspor ke dua negara pembeli utama, India dan China, mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2024. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan bahwa ekspor ke China turun menjadi 4,48 juta ton dari sebelumnya 7,73 juta ton, sementara ekspor ke India juga menurun menjadi 4,66 juta ton dari 5,96 juta ton. Penurunan ini dipicu oleh faktor harga, di mana minyak sawit Indonesia tidak lagi kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, menjelaskan bahwa kelesuan ini tidak hanya terjadi di China dan India, tetapi juga tercatat pada negara-negara lain seperti Bangladesh dan Malaysia, meskipun dengan penurunan yang lebih kecil. Sebaliknya, terdapat kenaikan ekspor ke beberapa negara, termasuk Pakistan dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa masih ada potensi pasar lain yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.

Dalam konteks ini, kerja sama dengan Tajikistan dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar dan mendiversifikasi tujuan ekspor. Anindya Bakrie menambahkan bahwa Tajikistan, dengan kebutuhan besar akan minyak sawit, dapat menjadi pusat distribusi yang menghubungkan Indonesia dengan pasar Eropa dan negara-negara di sekitar Asia Tengah. “Kita harus memanfaatkan ini untuk meningkatkan nilai ekspor kita,” tegasnya.

Secara keseluruhan, langkah ini diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan volume ekspor minyak sawit Indonesia, tetapi juga memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara. Dalam menghadapi tantangan global yang ada, diversifikasi pasar dan kemitraan strategis seperti ini menjadi sangat penting bagi keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia.

Sumber:

  • Peluan Baru! Tajikistan Bisa Jadi Pintu Gerbang Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Eropa — TVOne (2025-03-06)
  • Anindya Bakrie Temui Dubes Tajikistan, Bahas Potensi Perluasan Pasar CPO — SINDOnews (2025-03-06)
  • Ekspor Sawit Indonesia ke India dan China Turun Sepanjang 2024 — Sawit Indonesia (2025-03-06)
  • Ekspor Sawit ke China dan India Turun — Hortus (2025-03-06)
  • Indonesia dan Tajikistan Jajaki Kemitraan Strategis Minyak Sawit hingga Aluminium Hijau — TVOne (2025-03-06)