BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Amerika & Afrika

Prabowo Optimis Sawit dan Jagung Gantikan BBM Impor di Tengah Ketegangan Global

10 Maret 2026|Kebutuhan BBM Kita Nantinya
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Prabowo Optimis Sawit dan Jagung Gantikan BBM Impor di Tengah Ketegangan Global

Prabowo memberikan pidato mengenai pentingnya industri kelapa sawit untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan potensi kelapa sawit dan jagung sebagai sumber energi untuk menggantikan BBM impor di tengah ketegangan konflik Timur Tengah.

(2026/03/10) Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menggantikan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) impor dengan sumber energi nabati, seperti kelapa sawit, jagung, dan singkong. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan global akibat konflik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi ketahanan energi nasional.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia beruntung memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi terbarukan. Ia memperkirakan bahwa kebutuhan BBM Indonesia ke depan tidak perlu bergantung pada impor, melainkan dapat dipenuhi dari tanaman dalam negeri. Hal ini penting mengingat ketidakpastian pasokan energi global yang dapat berdampak pada perekonomian Indonesia.

Pengembangan BBM berbasis nabati sudah dimulai, dengan kelapa sawit sebagai salah satu andalan. Indonesia telah berhasil memproduksi biodiesel dengan campuran 40% minyak nabati dari kelapa sawit. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendukung kemandirian energi nasional. Prabowo menekankan pentingnya syukur atas kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, yang memberikan jaminan ketahanan pangan dan energi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PASPI, Dr. Tungkot Sipayung, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak konflik di Timur Tengah terhadap industri sawit. Menurutnya, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak signifikan, dari USD 70 per barel menjadi USD 105-130 per barel, yang dapat mempengaruhi biaya produksi dan harga jual minyak sawit mentah. Selain itu, ketegangan ini dapat mengganggu jalur logistik global yang sangat vital bagi industri.

Di sisi lain, harga minyak sawit mentah Malaysia juga mengalami penurunan pada hari yang sama, dengan kontrak berjangka untuk pengiriman Mei turun 2,32% menjadi RM4,461 per metrik ton. Penurunan ini terjadi seiring dengan penurunan harga minyak nabati lainnya di pasar Dalian dan Chicago. Data terbaru menunjukkan stok minyak sawit Malaysia pada bulan Februari turun 3,9% menjadi 2,70 juta metrik ton, yang merupakan level terendah dalam empat bulan terakhir.

Dengan proyeksi yang penuh ketidakpastian ini, industri sawit Indonesia diharapkan dapat beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang ada. Pengembangan sumber energi dari kelapa sawit dan tanaman lokal lainnya menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak negatif dari fluktuasi pasar global. Pemerintah dan pelaku industri harus bersinergi untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan sektor ini di tengah tantangan yang ada.

Sumber:

  • Kebutuhan BBM Kita Nantinya Tak Lagi Impor, Sawit-Jagung Bisa Jadi Sumber Energi โ€” Sawit Indonesia (2026-03-10)
  • Tekan Impor, Prabowo Genjot BBM dari Sawit, Jagung, Singkong, dan Tebu โ€” Detik (2026-03-10)
  • PASPI Uraikan 6 Dampak Konflik Timur Tengah Bagi Industri Sawit โ€” Sawit Indonesia (2026-03-10)
  • Dunia Bergejolak Imbas Perang Timur Tengah, Prabowo Ungkap Sawit hingga Jagung Bisa Gantikan BBM Impor โ€” TVOne (2026-03-10)
  • Palm oil slips as rival oils, crude slump โ€” NST Malaysia (2026-03-10)