Perjanjian IEU-CEPA dan Peluang Ekspor Biomassa Indonesia ke Pasar Global

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM 2025, membahas pengembangan energi biodiesel di industri kelapa sawit Indonesia.
Perjanjian IEU-CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa membuka peluang ekspor yang signifikan, terutama untuk produk minyak sawit dan biomassa, termasuk cangkang inti sawit.
Indonesia tengah berada di ambang perubahan signifikan dalam hubungan ekonominya dengan Uni Eropa (UE) melalui perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai perdagangan yang sudah menunjukkan tren positif, dengan total mencapai USD30,1 miliar pada tahun 2024. Neraca perdagangan Indonesia dengan UE juga mencatat surplus yang meningkat dari USD2,5 miliar pada tahun 2023 menjadi USD4,5 miliar pada tahun 2024.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada 6 Juni 2025, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas detail penting mengenai IEU-CEPA dengan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa, Maroš Šefčovič. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk Indonesia, termasuk minyak sawit, alas kaki, dan perikanan. Target pelaksanaan perjanjian ini ditaksir akan mulai diimplementasikan pada kuartal IV 2026 atau paling lambat kuartal I 2027.
Terkait dengan sektor minyak sawit, perjanjian ini diharapkan membawa angin segar bagi industri, mengingat UE merupakan salah satu pasar terbesar untuk produk minyak sawit Indonesia. Kebijakan yang lebih terbuka dan tarif yang lebih rendah dapat mendorong peningkatan volume ekspor, di mana Indonesia sudah menjadi salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia.
- Indonesia Hadapi Tantangan dalam Sengketa Sawit dan Legalitas Petani (13 Maret 2026)
- Kesempatan dan Tantangan dalam Industri Kelapa Sawit di Asia: Fokus pada UAE dan India (22 Februari 2026)
- Perdagangan Indonesia dan Uzbekistan Meningkat Pesat: Target Ambisius di Masa Depan (22 Februari 2026)
- Harga CPO Meningkat 7,97% di Tengah Ketegangan Timur Tengah (9 Maret 2026)
Selain itu, Indonesia juga aktif memperluas pasar ekspor produk biomassa ke Jepang. Dalam Misi Dagang yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan di Osaka, produk cangkang inti sawit (palm kernel shell/PKS) dan wood pellet berhasil meraih transaksi sebesar Rp1,04 triliun. Perusahaan Jepang telah menandatangani komitmen untuk mengimpor 640 ribu ton PKS dan wood pellet yang akan digunakan sebagai sumber energi. Langkah ini sejalan dengan target Jepang yang menetapkan penjualan kendaraan penumpang menjadi kendaraan listrik pada tahun 2035 dalam upaya mencapai net zero emission pada tahun 2050.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menekankan bahwa transisi Jepang ke kendaraan listrik membuka peluang besar bagi industri biomassa Indonesia untuk berkontribusi dalam penyediaan sumber energi terbarukan. Dengan permintaan yang terus meningkat, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi di pasar Jepang dan global.
Secara keseluruhan, perjanjian IEU-CEPA dan keberhasilan transaksi produk biomassa di Jepang menunjukkan potensi besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemasok utama di pasar internasional. Hal ini bukan hanya memberikan manfaat ekonomi bagi negara, tetapi juga mendukung upaya keberlanjutan dan transisi energi yang lebih ramah lingkungan.
Sumber:
- Penyelesaian Perjanjian IEU-CEPA Tingkatkan Peluang Ekspor CPO ke Uni Eropa — Hortus (2025-06-15)
- Produk Biomassa Asal Indonesia Raup Transaksi Rp 1,04 Triliun di Jepang — Kontan (2025-06-15)
- Perjanjian IEU CEPA Buka Peluang Ekspor Lebih Banyak bagi Minyak Sawit & Alas Kaki — Kontan (2025-06-15)
- Palm Kernel Shell dan Wood Pellet RI Raup Transaksi Rp1,04 Triliun di Jepang — Bisnis Indonesia (2025-06-15)