Realisasi DMO MinyaKita Juli Hanya 53.059 Ton, Kemendag Kaitkan Penurunan dengan Melemahnya Ekspor CPO

Pelabuhan eksklusif ini sibuk dengan aktivitas ekspor CPO, mendukung peningkatan angka ekspor sawit Indonesia.
(2026/08/02) Realisasi DMO MinyaKita 1โ17 Juli 2026 tercatat 53.059 ton, turun 1,02% mtm dan 56,02% yoy sejalan dengan pelemahan ekspor CPO.
(2026/08/02) Realisasi Domestic Market Obligation (DMO) program MinyaKita periode 1โ17 Juli 2026 tercatat 53.059 ton, turun 1,02 persen dibanding Juni 2026 dan 56,02 persen secara tahunan, kata Kementerian Perdagangan.
Kementerian Perdagangan menyambungkan penurunan realisasi DMO ini dengan melemahnya aktivitas ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya pada Juli 2026. Menurut Kemendag, kewajiban DMO hanya berlaku bagi produsen yang melakukan ekspor CPO sehingga turunnya ekspor berdampak langsung pada volume MinyaKita yang harus disalurkan ke pasar domestik.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, menjelaskan hubungan mekanis itu secara eksplisit: "DMO itu baru wajib manakala produsen itu melakukan ekspor. Kalau misalnya produsen minyak goreng tidak melakukan ekspor, maka tidak ada kewajiban DMO," ujar Iqbal saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat. Ia menegaskan pemerintah tidak bisa memaksa produsen meningkatkan penyaluran MinyaKita di luar perhitungan kewajiban yang terkait dengan volume ekspor mereka.
- Thailand Perketat Kontrol Ekspor Minyak Sawit Mentah di Tengah Tantangan Energi (7 April 2026)
- Thailand Perketat Ekspor CPO, Indonesia Optimalkan Biodiesel di Tengah Gejolak Global (9 April 2026)
- Kemendag Terbitkan Tiga Permendag Atur Ekspor Sawit, Batu Bara, dan Paduan Besi (12 Juni 2026)
- Mentan Andi Amran: PT DSI untuk Transparansi Ekspor Sawit dan Lindungi Harga TBS Petani (29 Juni 2026)
Kemendag melaporkan pasokan DMO MinyaKita Juli 2026 berasal dari 61 produsen minyak goreng, di mana 60 produsen telah memenuhi kewajiban minimal 35 persen penyaluran melalui BUMN Perum Bulog dan ID Food. Secara akumulasi, realisasi DMO sejak 26 Desember 2025 hingga 17 Juli 2026 mencapai 738.197 ton.
Angka 53.059 ton per 1โ17 Juli 2026 merefleksikan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya dan kontraksi tahunan yang signifikan, sementara data Kemendag menunjukkan sebagian besar kewajiban disalurkan lewat saluran BUMN. Volume produsen yang melakukan ekspor menjadi variabel penentu ketersediaan MinyaKita di pasar domestik karena mekanisme DMO mengikat hanya pada pelaku ekspor CPO.
Dalam konteks pasar, pelemahan ekspor CPO yang disebut Kemendag berpotensi berkaitan dengan pergeseran permintaan global maupun kondisi harga referensi internasional yang mempengaruhi keputusan ekspor produsen. Untuk memberikan konteks temporal, Kemendag mencatat akumulasi 738.197 ton DMO sejak akhir Desember 2025 sampai pertengahan Juli 2026, angka yang bisa dibandingkan dengan target penyaluran tahunan pemerintah meski dokumen target tahunan tersebut tidak tercantum dalam rilis ini.
Iqbal menegaskan hubungan sebab-akibat antara ekspor dan DMO: "Kalau produksi MinyaKita turun, artinya di sisi lain ekspor CPO juga sedang turun," ujarnya. Kemendag tidak mengumumkan angka ekspor CPO terbaru dalam rilis ini, namun mengaitkan penurunan realisasi DMO langsung dengan melemahnya aktivitas ekspor yang dilaporkan pihak produsen.
Sumber: