Prabowo Puji Riset Bahan Bakar dari Sawit dan Batu Bara, Tekankan Kemandirian Energi

Prabowo memberikan pidato mengenai pentingnya industri kelapa sawit untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Prabowo memuji akademisi yang berhasil mengolah kelapa sawit jadi BBM dan menyebut Indonesia akan membuat bensin dari batu bara, menekankan kemandirian dan kewaspadaan terhadap campur tangan asing.
(2026/09/20) Presiden Joko Widodo tidak hadir; tetapi Presiden RI Prabowo Subianto memberi pujian kepada akademisi dalam negeri yang mengembangkan bahan bakar minyak dari kelapa sawit dan menyatakan rencana pembuatan bensin dari batu bara, saat menghadiri syukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Prabowo mengatakan profesor dari fakultas teknik di Indonesia telah berhasil membuat solar dari kelapa sawit dan bahkan bensin dari kelapa sawit, penjelasan yang disampaikan dalam sambutannya di acara tersebut. Pernyataan itu menegaskan fokus pemerintah pada pemanfaatan sumber daya domestik untuk mengurangi ketergantungan impor energi dan meningkatkan kemandirian teknologi energi.
Dalam sambutan yang sama Prabowo menambahkan bahwa Indonesia juga akan memproduksi bensin dari batu bara. Pernyataan terkait batu bara muncul bersamaan dengan pujian kepada para akademisi dan dorongan untuk mengelola potensi alam secara mandiri. Pada bagian lain sambutannya, Prabowo menekankan pentingnya kejujuran dan keberanian akademisi dan generasi muda untuk terus mengembangkan kapasitas riset nasional.
- Mentan Tekankan Peremajaan Sawit Rakyat sebagai Fondasi Hilirisasi dan Kedaulatan Energi (29 Oktober 2026)
- Indonesia Siap Terapkan B50 untuk Semua Sektor Mulai Juli 2026 (27 April 2026)
- Mandatory B50 dan Dampaknya pada Industri Sawit Indonesia (1 Mei 2026)
- Pemerintah Pastikan Mandatori B50 Tak Mengurangi Volume Ekspor CPO (21 Juli 2026)
Secara operasional, Indonesia saat ini telah menggunakan biodiesel campuran B50 sebagai bagian dari program substitusi bahan bakar fosil untuk solar, sebuah kebijakan yang sudah berjalan di tingkat nasional. Untuk bensin, pemerintah sudah menerapkan pencampuran bioetanol 5% (E5) di beberapa wilayah secara terbatas. Pernyataan Prabowo menunjukkan dorongan memperluas pemanfaatan bahan bakar nabati dan eksplorasi teknologi konversi lainnya seperti dari batu bara.
Prabowo juga mengaitkan capaian riset tersebut dengan agenda kesejahteraan publik yang menjadi fokus pemerintahannya, termasuk penanganan gizi buruk, pemenuhan pangan, penyediaan pupuk untuk petani, dan bantuan bagi nelayan. Dalam pidatonya ia memperingatkan terhadap narasi asing yang menurutnya berupaya melemahkan kemajuan Indonesia, dan meminta generasi muda untuk tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh luar.
Pernyataan "Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya, ya, bukan yang profesor tadi itu, dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil membuat solar dari kelapa sawit. Dan sudah bisa membuat bensin dari kelapa sawit," menggarisbawahi pengakuan presiden terhadap kontribusi akademisi teknis dalam pengembangan energi domestik. Di bagian lain Prabowo menuturkan, "Dan kita juga nanti akan membuat bensin dari batu bara," menandai niatan pemerintah mendorong diversifikasi teknologi bahan bakar dalam negeri.
Selain menyerukan kemandirian teknologi, Prabowo merinci harapan agar riset energi menjadi bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Ia menegaskan bahwa upaya itu sejalan dengan program-program yang sedang dijalankan pemerintah, termasuk penerapan B50 untuk solar dan penerapan E5 di wilayah terbatas untuk bensin. Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa kebijakan campuran bahan bakar nabati tetap menjadi bagian dari strategi energi nasional.
Sumber: