Pemerintah Dorong Danantara Percepat Investasi untuk Percepat Hilirisasi Mineral

Tumpukan uang rupiah dan dolar tertata rapi melambangkan cadangan devisa negara yang terjaga dan penghematan anggaran dari pengurangan impor bahan bakar.
Pemerintah meminta BPI Danantara mempercepat investasi pada 26 proyek hilirisasi senilai Rp225 triliun untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan komoditas serta meningkatkan nilai tambah industri.
(2026/08/14) Pemerintah meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mempercepat realisasi investasi pada proyek-proyek hilirisasi senilai total Rp225 triliun untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan komoditas pertambangan serta memperkuat nilai tambah industri nasional, kata Deputi Bidang Energi Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi pada MINDialogue 2026.
Elen menjelaskan percepatan investasi itu bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan komoditas, dengan contoh konkret cadangan batubara Sumatera Selatan yang diperkirakan mencapai sekitar 1 miliar ton. Untuk memanfaatkan cadangan tersebut pemerintah mendorong pengolahan batubara menjadi Dimethyl ether (DME) sebagai pengganti LPG, dan Elen menegaskan dorongan kepada Danantara agar segera menyelesaikan mekanisme investasinya terkait DME.
Dokumen yang disampaikan pada acara tersebut mencatat ada 26 proyek hilirisasi yang tengah digarap oleh Danantara dengan total nilai investasi Rp225 triliun dan proyeksi penyerapan tenaga kerja 37.833 orang. Pelaksanaan dibagi dua fase: fase pertama dimulai dengan groundbreaking 6 Februari 2026 meliputi enam proyek prioritas di 13 lokasi bernilai Rp109 triliun dengan potensi menyerap 11.456 tenaga kerja, sedangkan fase kedua yang grounding pada 29 April 2026 mencakup 10 proyek prioritas di 13 lokasi bernilai Rp116 triliun dengan estimasi penyerapan 26.377 tenaga kerja.
- Hilirisasi Sawit: Kunci Kedaulatan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat (24 April 2026)
- Felda Luncurkan Biodiesel B100 untuk Kendaraan dan Alat Berat (16 April 2026)
- Ekspor Minyak Sawit Indonesia Naik 26% Berkat Strategi Hilirisasi (3 April 2026)
- Ekspor CPO Indonesia Meningkat Menjadi USD4,69 Miliar Berkat Hilirisasi (2 April 2026)
Dalam paparan teknis, Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengidentifikasi tantangan utama sebagai masalah teknologi, termasuk keterbatasan transfer teknologi dari mitra investasi. Sigit memaparkan bahwa kesenjangan teknologi paling besar terdapat pada mineral yang digunakan untuk semikonduktor dan beberapa mineral khusus, sehingga kebutuhan investasi harus disertai strategi transfer teknologi, pelatihan, dan akuisisi kemampuan lokal.
Rincian proyek yang disebutkan meliputi pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan fasilitas pengolahan tembaga di sektor pertambangan; serta proyek energi dan pangan seperti pengembangan bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, dan peternakan ayam terintegrasi. Dokumen proyek menunjukkan fase pertama dan kedua tersebar di 13 lokasi yang telah ditentukan, namun jadwal komersialisasi tiap proyek belum dirinci dalam paparan publik pada acara tersebut.
Selain tekanan pada aspek teknologi dan investasi, penyelenggara acara menggarisbawahi tujuan penguatan industri nasional dan penciptaan lapangan kerja. Elen menyatakan bahwa ketika produk-produk hilirisasi sudah tersedia, negara dapat mengembangkan pasar domestik โ termasuk substitusi LPG dengan DME โ serta potensi substitusi impor energi. Pernyataan ini menempatkan Danantara sebagai katalisator investasi yang diharapkan memfasilitasi langkah transisi dari bahan mentah ke produk bernilai tambah.
Dokumen acara juga menegaskan bahwa Danantara saat ini mempercepat pelaksanaan proyek hilirisasi strategis nasional dan pemerintah telah melakukan dua groundbreaking besar pada 6 Februari dan 29 April 2026 untuk menandai dimulainya fase-fase proyek. Total nilai investasi yang diumumkan tetap Rp225 triliun dengan target penyerapan tenaga kerja 37.833 orang, sementara detail mekanisme pembiayaan dan jadwal penyelesaian komersial tiap proyek menjadi catatan tindak lanjut yang perlu dipantau.
Sumber: