Pasokan Menyusut, Stok Sawit Malaysia Terendah 7 Bulan Dorong Kenaikan Nilai

Deretan tangki timbun CPO di kompleks pabrik, melambangkan penyimpanan dan penanganan minyak sawit mentah dalam jumlah besar.
Stok minyak sawit Malaysia turun 16,1% ke 2,27 juta ton pada Maret 2026, didorong lonjakan ekspor 40,7% dan produksi 1,38 juta ton, menekan pasokan global.
(2026/09/05) Stok minyak sawit Malaysia turun 16,1 persen menjadi 2,27 juta ton pada Maret 2026 dari Februari, sementara ekspor melonjak 40,7 persen ke 1,55 juta ton, menurut data Malaysian Palm Oil Board yang dilaporkan pada Jumat.
Penurunan stok tersebut mencatatkan level terendah sejak Agustus tahun sebelumnya dan menandai penurunan persediaan untuk bulan ketiga berturut-turut. Pada saat yang sama, produksi crude palm oil (CPO) meningkat 7,2 persen menjadi 1,38 juta ton, mengakhiri empat bulan penurunan berturut-turut meski tetap mencatat angka terendah untuk bulan Maret dalam tiga tahun terakhir.
Industri melihat kombinasi ekspor yang melonjak dan pasokan yang relatif ketat sebagai pendorong bagi kenaikan harga berjangka Malaysia. Laporan menyebutkan bahwa reli harga juga diperkuat oleh kenaikan harga energi global setelah konflik di Iran, yang meningkatkan nilai relatif komoditas utama Malaysia.
- Karantina Lampung Lepas Ekspor 14 Ribu Ton PKE ke Selandia Baru (4 Juli 2026)
- Persyaratan Ekspor Minyak Sawit ke Swedia dan Amerika Serikat 2026 (2 April 2026)
- Indonesia Lobi AS Agar Sawit Dikecualikan dari Tarif 10% (28 Juli 2026)
- India dan Thailand Ambil Langkah Kendalikan Pasokan Minyak Sawit di Tengah Krisis Global (6 April 2026)
Hasil survei Reuters yang dikutip memberi gambaran pasar: survei tersebut memproyeksikan stok pada 2,18 juta ton, produksi 1,34 juta ton dan ekspor 1,56 juta ton, sehingga realisasi data resmi sedikit berbeda dari perkiraan. Anilkumar Bagani, research head di Sunvin Group, dikutip oleh Reuters mengatakan bahwa meskipun pengurangan stok pada Maret besar, tingkat persediaan Malaysia tetap lebih tinggi dari level tipikal untuk periode ini.
Beberapa pelaku pasar menilai reli minyak kedelai baru-baru ini telah memperlebar diskon palm oil terhadap rivalnya, sehingga ada potensi pembeli besar seperti India kembali memasuki pasar setelah menahan diri pada bulan sebelumnya. Namun laporan juga mencatat impor India terhadap minyak sawit turun hampir 19 persen pada Maret, mencapai level terendah tiga bulan.
Pengamat pasar yang dirujuk dalam laporan menekankan bahwa kinerja ekspor Maret perlu diulang pada April agar pengetatan pasokan berkelanjutan dapat menopang pasar. Data awal untuk produksi dan ekspor bulan April menunjukkan volatilitas: produksi dilaporkan masih relatif tinggi, sedangkan ekspor tercatat menurun tajam pada 10 hari pertama bulan itu menurut sumber pasar yang dikutip.
Secara konkret, angka-angka utama yang dilaporkan adalah: stok turun 16,1% menjadi 2,27 juta ton; produksi CPO naik 7,2% menjadi 1,38 juta ton; dan ekspor meningkat 40,7% menjadi 1,55 juta ton pada Maret 2026. Perubahan ini terjadi di negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, yang berpotensi mempengaruhi harga berjangka Malaysia dan aliran perdagangan regional jika tren ekspor berlanjut.
Sumber: