BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Pasar Asia

India dan Thailand Ambil Langkah Kendalikan Pasokan Minyak Sawit di Tengah Krisis Global

6 April 2026|Impor minyak nabati India
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
India dan Thailand Ambil Langkah Kendalikan Pasokan Minyak Sawit di Tengah Krisis Global

Gambaran minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya menunjukkan tren harga yang berfluktuasi di pasar global.

India mengurangi impor minyak nabati, sementara Thailand membatasi ekspor CPO untuk mengatasi lonjakan permintaan biodiesel akibat krisis energi.

(2026/04/06) India dan Thailand mengambil langkah signifikan dalam mengelola pasokan minyak sawit di tengah ketidakpastian global. India, sebagai importir minyak nabati terbesar dunia, mulai mengurangi impor secara drastis akibat lonjakan harga dan krisis energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Sementara itu, Thailand akan memberlakukan kontrol ketat terhadap ekspor minyak sawit mentah (CPO) untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi domestik dan permintaan biodiesel yang meningkat.

Langkah India untuk menahan impor minyak nabati ini menjadi sinyal peringatan bagi negara-negara eksportir utama seperti Indonesia dan Malaysia. Penurunan permintaan dari India, yang selama ini menjadi pasar utama bagi minyak sawit mentah, dapat memberikan dampak negatif bagi pasar global. Dengan gangguan pasokan energi yang telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di India, sektor hotel, restoran, dan katering yang merupakan konsumen utama minyak nabati juga diprediksi akan terpengaruh.

Di sisi lain, pasar minyak sawit Malaysia juga terpengaruh oleh kondisi ini. Harga kontrak minyak sawit mentah di Bursa Malaysia turun sebesar RM34, atau 0,7 persen, menjadi RM4,805 (US$1,192.31) per metrik ton. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga soyoil di Chicago, meskipun harga minyak mentah yang lebih tinggi memberikan dukungan pada minyak sawit sebagai pilihan untuk bahan baku biodiesel.

Thailand, sebagai produsen minyak sawit terbesar ketiga di dunia, juga mengambil tindakan dengan mengumumkan pembatasan ekspor CPO mulai 7 April. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga pasokan dalam negeri sambil memenuhi permintaan biodiesel yang meningkat akibat lonjakan harga energi global. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Perdagangan Thailand menegaskan bahwa langkah ini tidak akan berdampak pada petani, yang akan tetap dilindungi oleh pemerintah.

Proyeksi produksi Thailand untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa negara tersebut akan memproduksi 21,87 juta ton minyak sawit dan 3,94 juta ton CPO. Dengan adanya peningkatan permintaan biodiesel, Thailand berencana untuk meningkatkan rasio pencampuran biodiesel dalam bahan bakar diesel. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu negara tersebut mengelola pasokan dan harga dalam menghadapi kondisi pasar yang volatile.

Dampak dari kebijakan-kebijakan ini terhadap industri sawit di Indonesia dan Malaysia akan sangat bergantung pada seberapa besar pengurangan permintaan dari India dan bagaimana Thailand mampu mengelola ekspor CPO-nya. Para pelaku pasar diharapkan untuk terus memantau perkembangan ini, mengingat ketergantungan pasar global pada pasokan minyak sawit dari kedua negara ini. "Krisis energi global mengharuskan kita untuk lebih berhati-hati dalam mengelola sumber daya kita," ujar seorang analis industri.

Sumber: