BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Korporasi & Bisnis

Musim Kemarau Dorong Permintaan Krey Sawit, Perajin Lebak Raup Omzet Dua Kali Lipat

3 Agustus 2026|Krey Limbah Sawit dan Pekerjaan
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Musim Kemarau Dorong Permintaan Krey Sawit, Perajin Lebak Raup Omzet Dua Kali Lipat

Seorang petani anonim berdiri membelakangi kamera di jalan kebun sawit, menghadap tumpukan tandan buah segar yang menunggu diangkut. Suasana mendung dan warna tanah yang kusam memberi kesan tekanan ekonomi akibat turunnya harga CPO.

Musim kemarau meningkatkan permintaan krey pelepah sawit di Lebak; omzet pengepul dan perajin naik hingga dua kali lipat, mendorong penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi lokal.

(2026/08/03) "Kita sekarang bisa menghasilkan omzet Rp60 juta dari sebelumnya Rp30 juta per pekan," kata Toto, pengepul krey sawit di Lebak, menggambarkan lonjakan bisnis tirai dari pelepah sawit yang dipicu musim kemarau.

Permintaan krey sawit di Kabupaten Lebak melonjak dari sekitar 1.000 unit menjadi 2.000 unit per pekan, menurut data yang dikumpulkan dari beberapa laporan lokal, sehingga mendorong peningkatan produksi di tingkat perajin dan pengepul.

Lonjakan itu tercermin pada angka omzet pengepul lain, Timan, yang naik dari sekitar Rp25 juta menjadi Rp50 juta per pekan. "Kami sangat terbantu adanya peningkatan permintaan pasar itu," kata Timan, menunjukkan penyebaran pesanan ke wilayah seperti Depok, Bogor, dan Jakarta.

Di tingkat perajin, intensifikasi produksi juga nyata; Rosad menyebut kini mampu membuat sekitar enam unit krey setiap hari dan menjual ke pengepul dengan harga Rp25 ribu per krey, sementara perajin lain, Nursaad, membuat lima lembar krey per hari dan menerima Rp30 ribu per lembar dari pengepul.

Sejak 2010, pengembangan kerajinan krey pelepah sawit di Kampung Cihiyang dan Desa Rangkasbitung Timur dikembangkan oleh para pelaku lokal. "Saat ini, sekitar 290 perajin tergabung dalam Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak," kata laporan yang menggambarkan struktur organisasi usaha kerajinan tersebut.

Skala usaha kini cukup besar: jaringan pemasaran krey buatan warga menjangkau Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi, dan kapasitas pasokan disebut mampu mencapai sekitar 10 ribu lembar krey setiap bulan dengan perputaran uang mencapai sekitar Rp300 juta per bulan.

Pemerintah daerah juga mencatat perkembangan ini. "Kami mengapresiasi keberadaan UMKM kerajinan tirai sawit dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, sekaligus mengatasi kemiskinan dan pengangguran," ujar Imam Suangsa, Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, seraya menyebut lebih dari 172 ribu pelaku UMKM di kabupaten itu termasuk usaha kerajinan krey dan sapu lidi.

Kisah perajin memperlihatkan dampak sosial-ekonomi langsung: Nursaad menyatakan pendapatan dari krey membuat anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan, sedangkan pasangan Mulyadi dan Sa'adah beralih dari buruh tani ke usaha krey yang menopang kebutuhan keluarga mereka.

Harga jual krey di tingkat pengecer dilaporkan sekitar Rp30 ribu per unit, dan permintaan yang meningkat pada musim kemarau membuat omzet perajin dan pengepul naik hingga 100 persen, menurut beberapa sumber lokal yang mendokumentasikan perubahan ini.

Pergeseran limbah pelepah sawit menjadi produk bernilai jual turut membuka lapangan kerja lokal; laporan menyebut baik krey maupun sapu lidi telah menciptakan perputaran ekonomi sampai ke skala miliaran rupiah setiap bulan di kawasan tertentu.

Pengembangan usaha oleh paguyuban dan penyerapan pasar dari kota-kota sekitar menegaskan bahwa kerajinan berbasis limbah pertanian dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi komunitas dekat perkebunan.

Sumber: