BPDP: Sawit Hadir dalam Produk Sehari-hari dan 41% Industri Dikelola Rakyat

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.
(2026/07/30) BPDP menyatakan produk turunan sawit hadir di kehidupan sehari-hari dan 41% produksi sawit nasional dikelola oleh masyarakat.
(2026/07/30) Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Zaid Burhan Ibrahim menyatakan produk turunan sawit selalu ada dalam kehidupan sehari-hari dan 41 persen dari industri sawit nasional dikelola oleh masyarakat.
Zaid menyampaikan pernyataan tersebut dalam Media Briefing "Industri Sawit yang Berkelanjutan" di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu, dengan menekankan kehadiran sawit dalam produk kosmetik, bahan bakar, minyak goreng, serta pemanfaatan limbah untuk helm, baju batik, dan rompi anti peluru.
BPDP menggarisbawahi produktivitas sawit yang tinggi: kelapa sawit mampu menghasilkan sekitar 4 ton minyak per hektare, jauh melampaui kedelai 0,4 ton per ha, bunga matahari 0,6 ton per ha, dan kacang merah yang produksinya tidak mencapai seperlima produktivitas sawit.
- Industri Sawit Indonesia: Penopang Ekonomi dan Inovasi Teknologi 2026 (22 April 2026)
- Industri Sawit Hadapi Tantangan Sambil Memperkuat Peran di Pasar Global (23 April 2026)
- Inovasi dan Nilai Tambah di Industri Sawit Indonesia di Tahun 2026 (16 April 2026)
- PTPN IV PalmCo Catat Laba Bersih Rp3,23 T di Semester I 2026, Didukung Harga CPO dan Efisiensi (25 Juli 2026)
Zaid menyatakan bahwa 80 persen dari total ekspor sawit Indonesia saat ini berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah, yang menurutnya menunjukkan hilirisasi mulai memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
Dalam pemaparan terpisah pada kesempatan yang sama, Zaid menyebutkan bahwa sekitar 41 persen dari industri sawit nasional dikelola oleh perkebunan rakyat yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Pulau Kalimantan, hingga Pulau Sulawesi, dan produksi perkebunan rakyat tersebut mencapai lebih dari 16 juta ton setiap tahun.
BPDP mencatat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional: sektor ini menyumbang sekitar 4,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2025, dan nilai ekspor sawit mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS per tahun menurut pernyataan Zaid.
Zaid juga menyampaikan dampak luas industri sawit terhadap tenaga kerja dan infrastruktur, dengan estimasi penciptaan lapangan kerja sekitar 16,5 juta orang di perkebunan serta sektor transportasi, logistik, perdagangan, pengolahan, dan UMKM.
Konteks produktivitas sawit yang tinggi dan tingginya proporsi hilirisasi menjadi dasar BPDP memposisikan sawit sebagai komoditas yang efisien dalam penggunaan lahan dan berkontribusi pada devisa nasional, kata Zaid.
BPDP menyoroti peran pekebun rakyat bukan sekadar pelengkap: "Fakta ini menunjukkan bahwa pekebun bukan hanya sekedar pelengkap industri sawit, tetapi merupakan aktor utama dalam rantai pasok sawit nasional," ujar Zaid dalam briefing.
Dalam rangka mendorong pemanfaatan limbah sawit dan peningkatan nilai tambah, BPDP membahas contoh pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah seperti helm, baju batik, dan rompi anti peluru, menurut paparan yang disampaikan Zaid.
Rangkaian pernyataan BPDP pada 30 Juli 2026 menegaskan fokus pada hilirisasi, produktivitas lahan, serta peran masyarakat dalam industri; RUPS atau jadwal kebijakan lanjutan tidak disebut dalam paparan yang dikutip.
Sumber: