BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Korporasi & Bisnis

PTPN IV PalmCo Catat Laba Bersih Rp3,23 T di Semester I 2026, Didukung Harga CPO dan Efisiensi

25 Juli 2026|Laba PTPN IV PalmCo
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
PTPN IV PalmCo Catat Laba Bersih Rp3,23 T di Semester I 2026, Didukung Harga CPO dan Efisiensi

Logo PTPN 4 Palmco, perusahaan perkebunan negara, mencerminkan komitmen terhadap industri kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan.

(2026/07/25) PTPN IV PalmCo membukukan laba bersih konsolidasian Rp3,23 triliun pada Semester I 2026, tumbuh 54% YoY berkat penjualan CPO dan efisiensi biaya.

(2026/07/25) PTPN IV PalmCo membukukan laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun pada Semester I 2026, naik 54 persen year-on-year.

Pertumbuhan laba tersebut selaras dengan pendapatan perusahaan yang mencapai Rp23,41 triliun pada periode yang sama, atau meningkat 11 persen YoY, dengan penjualan CPO menyumbang Rp19,36 triliun dari total pendapatan.

Perusahaan menyatakan kenaikan harga jual rata-rata CPO pada Semester I 2026 menyentuh Rp15.034 per kilogram, 6 persen lebih tinggi dibanding periode setahun sebelumnya, yang turut mendorong kinerja margin PalmCo.

Dari sisi operasional, PalmCo melaporkan produktivitas CPO pada semester pertama sebesar 2,14 ton per hektare dan tingkat rendemen CPO kebun sendiri di 23,48 persen; angka-angka ini dipaparkan manajemen sebagai bukti perbaikan produksi dan pengolahan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan bahwa pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. "Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Fundamental inilah yang membuat kenaikan harga CPO sebesar 6 persen di pertengahan tahun 2026 mampu membuahkan lonjakan laba hingga 54 persen di tengah berbagai tantangan," ujarnya.

Jatmiko juga menyoroti standardisasi kerja dan perbaikan proses bisnis pabrik serta percepatan kultur teknis di lapangan sebagai faktor peningkatan rendemen. "Peningkatan produktivitas dan rendemen CPO merupakan buah dari perbaikan proses bisnis di pabrik kelapa sawit dan percepatan kultur teknis di lapangan. Kami memastikan setiap ton bahan baku yang masuk ke pabrik diolah dengan tingkat efisiensi dan pengawasan maksimum," tambahnya.

PalmCo melaporkan penekanan cash cost komoditas sawit ke level Rp3.707 per kilogram, langkah yang disebut perusahaan menjaga margin di tengah tekanan biaya. Manajemen menyebut serapan pupuk yang terukur dan optimalisasi mesin pabrik sebagai komponen pengendalian beban pokok operasional.

Konsolidasi metrik keuangan menunjukkan postur yang menguat; perusahaan menyebut pendapatan CPO sebagai pendorong utama dan efisiensi operasional sebagai katalis margin, yang tercermin pada lonjakan laba bersih 54 persen YoY.

Catatan operasional dan keuangan semester pertama memberi gambaran arus kinerja PalmCo menuju paruh kedua 2026, dengan manajemen menempatkan fokus pada standardisasi kerja, efisiensi pabrik, dan pengendalian biaya sebagai agenda utama yang terus dijalankan.

Sumber: