Kenaikan Harga Minyakita dan CPO: Dampak Kebijakan dan Pasar Global

Gambar menunjukkan produk minyak goreng kemasan dari industri hilir kelapa sawit di Indonesia.
Harga Minyakita dan minyak sawit mentah (CPO) mengalami kenaikan signifikan dipicu oleh kebijakan B40 dan dinamika pasar internasional.
Kenaikan harga Minyakita dan minyak sawit mentah (CPO) dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat dan pelaku industri. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama penyebab kenaikan harga Minyakita adalah peningkatan penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel B40. Hingga pekan pertama Februari 2025, harga Minyakita telah mencapai Rp 17.728 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter.
Menurut Sahat, permintaan pasar internasional terhadap minyak sawit diperkirakan akan terhambat, yang berkontribusi pada kenaikan harga. Dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring, ia mengungkapkan bahwa meningkatnya penggunaan biodiesel secara bersamaan dengan praktik re-packing oleh pedagang menyebabkan disparitas harga yang signifikan. Beberapa pedagang membeli Minyakita dalam jumlah besar dan mengemas ulang, sehingga harga jualnya bisa naik hingga Rp 4.000 per liter di atas HET.
Kenaikan harga CPO juga terlihat di pasar internasional. Di Bursa Malaysia, harga kontrak minyak sawit berjangka mengalami kenaikan lebih dari 2% pada 12 Februari 2025, didorong oleh permintaan yang meningkat dari China menjelang perayaan Hari Raya Imlek dan kebijakan mandatori biodiesel B40 di Indonesia. Pada saat yang sama, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat naik 1,34%, dengan penawaran tertinggi mencapai Rp 14.938 per kilogram.
- Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi Tipis, CPO Turun ke Rp14.999 (29 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit Melorot di Sumut dan Naik di Kalbar Pasca Lebaran (26 Maret 2026)
- Ekspor CPO Meningkat 26,4% ke US$4,69 Miliar di Awal 2026 (2 April 2026)
- Harga CPO KPBN Menguat di Tengah Ketidakpastian Global pada April 2026 (2 April 2026)
Namun, meskipun harga CPO mengalami kenaikan, pasar juga menunjukkan volatilitas. Tender yang berlangsung pada 12 Februari berakhir dengan withdraw (WD), saat harga mendekati Rp 15.000 per kilogram. Hal ini mencerminkan ketidakpastian di pasar dan kekhawatiran mengenai pasokan. Penurunan ekspor minyak sawit Malaysia sebesar 12,94% pada Januari 2025, serta penurunan produksi CPO yang mencapai 16,80% dibanding bulan sebelumnya, semakin memperjelas tantangan yang dihadapi oleh industri minyak sawit.
Di sisi lain, meskipun harga komoditas minyak mentah global juga mengalami kenaikan, harga batu bara justru merosot tajam. Kenaikan harga minyak mentah, yang mencapai 1,5%, dipicu oleh sanksi yang mengganggu pasokan dari Rusia dan Iran, serta ketegangan di Timur Tengah.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan bahwa harga minyak sawit dan Minyakita tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan domestik, tetapi juga oleh dinamika pasar global yang kompleks. Pelaku industri perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan peluang yang ada.
Sumber:
- DMSI Sebut Kenaikan Harga Minyakita Akibat B40 โ Hortus (2025-02-12)
- Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Rabu (12 per 2), Harga CPO di Bursa Malaysia Naik โ Info Sawit (2025-02-12)
- Video Prospek Bisnis Sawit di Tengah Kenaikan Harga CPO โ CNBC (2025-02-12)
- Sudah Februari Kenapa Harga Minyakita Masih Mahal Ini Temuan Dmsi โ Kompas (2025-02-12)
- Ekspor Minyak Sawit Malaysia Turun 12,94% pada Januari 2025 โ Info Sawit (2025-02-12)
- Harga Komoditas: Minyak Mentah Naik 1,5 Persen, Batu Bara Anjlok 1,4 Persen โ Kumparan (2025-02-12)
- Terhalang WD, Senggol Rp 15.000 Harga CPO Hasil Tender PT KPBN Periode 12 Februari 2025 โ Media Perkebunan (2025-02-12)