BeritaSawit.id
πŸ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi Tipis, CPO Turun ke Rp14.999

29 Maret 2026|Harga TBS Sawit Sumut
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi Tipis, CPO Turun ke Rp14.999

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.

Harga TBS sawit di Sumatra Utara mengalami koreksi tipis pasca Lebaran, seiring penurunan harga CPO menjadi Rp14.999 per liter.

(2026/03/29) Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatra Utara mengalami penurunan tipis menjadi Rp3.834,74 per kilogram pada akhir Maret 2026. Penurunan harga ini terjadi setelah harga TBS sempat menembus Rp3.912,42 per kg saat periode Lebaran, akibat lonjakan harga komoditas yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global.

Menurut analisis dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut, penurunan harga ini berkaitan langsung dengan harga minyak sawit mentah (CPO) yang kembali turun. Harga CPO acuan saat ini berada di level Rp14.999,17 per liter, menurun dari Rp15.516 per liter sebelumnya. Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara harga TBS dan CPO, di mana penurunan harga CPO berkontribusi pada penyesuaian harga TBS yang lebih rendah.

Kenaikan harga TBS yang terjadi menjelang Lebaran menunjukkan potensi pasar yang baik untuk industri sawit di Sumut. Pada pertengahan Maret, harga TBS sempat mencapai Rp3.776,35 per kg, memberikan harapan bagi petani sawit di provinsi ini. Namun, dengan turunnya harga CPO, petani kini harus menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan pendapatan mereka dari hasil panen.

Meskipun harga TBS saat ini terkoreksi, penting untuk dicatat bahwa harga kernel justru menunjukkan tren yang berbeda dengan sedikit kenaikan. Ini menandakan bahwa meskipun harga CPO menurun, beberapa komponen dalam industri sawit masih memiliki daya tarik di pasar.

Ke depan, proyeksi harga CPO dan TBS akan sangat bergantung pada dinamika pasar global dan faktor-faktor eksternal lainnya. Penurunan harga CPO yang baru-baru ini terjadi dapat mempengaruhi keputusan petani dalam mengelola lahan mereka, serta strategi pemasaran yang akan diambil di masa mendatang.

Dengan situasi pasar yang terus berubah, pelaku industri perlu memantau perkembangan harga dengan seksama. Analis pasar memperingatkan bahwa volatilitas harga dapat terus terjadi, sehingga penting bagi petani dan pemangku kepentingan untuk siap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi.

Sumber: