Harga CPO Tertekan Akibat Penurunan Permintaan dan Tender yang Sepi

Pabrik kelapa sawit ini menghasilkan limbah POME yang mencemari lahan, menunjukkan dampak negatif industri terhadap lingkungan.
Penurunan permintaan dari India dan hasil tender yang mengecewakan menyebabkan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) mengalami penurunan signifikan.
Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali mengalami penurunan, dipicu oleh penurunan permintaan dari India dan hasil tender yang menunjukkan kurangnya minat pasar. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melaporkan bahwa harga referensi CPO untuk penetapan bea keluar dan pungutan ekspor periode Maret 2025 ditetapkan sebesar 954,50 dolar AS per metrik ton (MT), turun 0,10 persen dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 955,44 dolar AS per MT.
Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Isy Karim, menyatakan bahwa faktor utama yang memicu penurunan harga ini adalah turunnya permintaan dari pasar utama, yaitu India. Selain itu, penurunan harga minyak nabati lainnya turut berkontribusi dalam melemahnya harga CPO. Hal ini menciptakan dampak negatif pada industri kelapa sawit Indonesia, yang selama ini bergantung pada ekspor ke negara-negara seperti India.
Sementara itu, situasi ini semakin diperparah dengan hasil tender yang diselenggarakan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada awal Maret 2025. Tanda-tanda penurunan harga sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir Februari, dengan banyaknya pelabuhan ekspor yang menarik diri dari keikutsertaan tender. Pada tender kali ini, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa minat pasar semakin berkurang, dengan banyak peserta yang melakukan withdraw (WD).
- Harga CPO KPBN Naik 1,57% pada 26 Maret, Perdagangan Bursa Malaysia Menguat (26 Maret 2026)
- Harga CPO dan TBS Sawit di Sumut Turun, Proyeksi Masa Depan Menarik (25 Maret 2026)
- Harga Sawit di Sumbar dan PT Bensuli Salam Makmur Meningkat di Akhir Maret 2026 (30 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit Sumut Terkoreksi Tipis, CPO Turun ke Rp14.999 (29 Maret 2026)
Trend penurunan ini tidak hanya terjadi pada harga CPO, tetapi juga mencerminkan kondisi pasar global yang lebih luas. Dengan ketidakpastian yang melanda perdagangan internasional dan fluktuasi harga minyak nabati yang lainnya, banyak produsen dan eksportir CPO yang merasa khawatir akan kelangsungan bisnis mereka. Kondisi ini menuntut strategi baru bagi para pelaku industri untuk mempertahankan daya saing di pasar global.
Di tengah situasi yang menantang ini, penting bagi pemerintah dan stakeholder untuk mengambil langkah-langkah proaktif guna meningkatkan daya tarik produk CPO Indonesia di pasar internasional, termasuk memperkuat hubungan dengan negara-negara importir utama dan menjajaki pasar baru. Hanya dengan cara ini, sektor kelapa sawit di Indonesia dapat kembali bangkit dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Sumber:
- Penurunan Permintaan dari India Akibatkan Harga CPO Tutun โ Sawit Indonesia (2025-03-03)
- Kini di Tepi Jurang Harga CPO Hasil Tender PT KPBN Periode 3 Maret 2025 โ Media Perkebunan (2025-03-03)