BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Harga CPO Melonjak dan Penerimaan Bea Keluar Mencapai Rekor Tertinggi

23 Februari 2026|Kenaikan Harga CPO
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Harga CPO Melonjak dan Penerimaan Bea Keluar Mencapai Rekor Tertinggi

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Harga referensi CPO mengalami kenaikan yang signifikan, sementara penerimaan negara dari ekspor produk sawit melonjak hingga 1.100% pada kuartal pertama 2025.

Harga referensi minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk periode April 2025 resmi ditetapkan naik menjadi USD 961,54 per ton, sesuai dengan keputusan Kementerian Perdagangan. Kenaikan ini menunjukkan bahwa harga CPO terus mengalami tren positif meski ada fluktuasi di pasar global. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan penerimaan negara dari sektor sawit yang mencapai rekor tertinggi.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan Bea Keluar sebesar USD 124 per ton dan Pungutan Ekspor sebesar 7,5 persen dari harga CPO yang baru ditetapkan. Kenaikan harga ini, yang naik sebesar USD 7,03 atau sekitar 0,74 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi acuan penting bagi perhitungan pajak dan pungutan dari produk sawit.

Selama kuartal pertama tahun 2025, penerimaan negara dari Bea Keluar ekspor produk sawit juga melonjak hingga 1.145,7%, mencapai Rp 7,89 triliun. Peningkatan ini didorong oleh tingginya harga CPO, yang rata-rata mencapai MYR 4.415,8 per ton, meskipun tidak ada perubahan signifikan dalam permintaan. Setoran terbesar berasal dari turunan CPO, dengan kontribusi mencapai Rp 6,493 triliun, mencerminkan pertumbuhan yang luar biasa di sektor ini.

Di sisi lain, harga CPO di pasar domestik mengalami sedikit penurunan. Pada 16 April 2025, harga CPO di PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom ditetapkan sebesar Rp 14.100 per kilogram, turun sekitar 0,54% dari hari sebelumnya. Penurunan ini terlihat sejalan dengan fluktuasi harga di Bursa Malaysia yang mengalami tekanan karena penurunan harga minyak kedelai dan faktor eksternal lainnya.

Dengan situasi ini, pelaku industri sawit di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan daya saing di pasar global, terutama ketika negara-negara lain juga berusaha meningkatkan produksi dan ekspor mereka. Namun, dengan penerimaan negara yang meningkat, sektor sawit tetap menjadi andalan bagi perekonomian Indonesia.

Dalam konteks global, tekanan dari kebijakan luar negeri, seperti tarif yang diterapkan oleh pemerintah AS, juga mempengaruhi pasar di negara-negara lain, termasuk Jepang. Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang, Ryosei Akazawa, mengungkapkan bahwa bisnis di negara tersebut terganggu akibat dampak dari tarif yang dikenakan oleh AS, yang memperburuk tantangan bagi para eksportir di kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan yang harus dihadapi, industri kelapa sawit Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dengan peningkatan harga dan penerimaan negara dari sektor ini. Ini menegaskan posisi penting kelapa sawit dalam perekonomian nasional, meskipun perlu diingat bahwa keberlanjutan dan praktik bisnis yang adil harus tetap menjadi prioritas bagi semua pemangku kepentingan.

Sumber:

  • Harga Referensi CPO Naik Jadi USD 961,54 per Ton untuk Periode April 2025 โ€” Hai Sawit (2025-04-16)
  • Kabar Gembira Buat Prabowo, Cuan Ekspor CPO Melonjak 1.100% โ€” CNBC (2025-04-16)
  • Harga CPO KPBN Inacom Lesu pada Rabu (16 per 4), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Turun โ€” Info Sawit (2025-04-16)