Fluktuasi Harga Kelapa Sawit: Antara Kenaikan dan Penurunan yang Mengguncang Petani

Harga TBS kelapa sawit di Indonesia mengalami penurunan, terlihat dari buah sawit yang menumpuk rendah kualitas.
Harga kelapa sawit di Indonesia mengalami fluktuasi yang signifikan, mempengaruhi kondisi ekonomi petani di berbagai daerah. Dalam satu bulan terakhir, harga Tandan Buah Segar (TBS) melonjak dan merosot, menciptakan tantangan bagi para pelaku industri.
Indonesia sedang menghadapi tantangan di sektor kelapa sawit, di mana harga Tandan Buah Segar (TBS) mengalami fluktuasi tajam. Di satu sisi, harga CPO (Crude Palm Oil) di pasar menunjukkan stabilitas, namun sejumlah petani merasakan dampak negatif dari penurunan harga TBS yang signifikan.
Pada Selasa (27/5/2025), harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom mengalami kenaikan sebesar 0,42%, menjadi Rp 13.180/kg. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang cukup stabil, meskipun harga minyak sawit di Bursa Malaysia mengalami penurunan tipis. Stabilitas harga CPO ini menunjukkan adanya harapan bagi petani, namun di sisi lain, fluktuasi harga TBS menjadi perhatian serius.
Di Kecamatan Segah, Berau, Kalimantan Timur, ratusan petani mengeluhkan anjloknya harga TBS yang telah berubah delapan kali dalam sebulan. Kamaruddin, salah satu petani, mengungkapkan bahwa harga TBS turun dari Rp 3.210 per kilogram menjadi hanya Rp 2.920 per kilogram. Fluktuasi harga yang tajam ini sangat mempengaruhi kondisi ekonomi petani, terutama di tengah biaya operasional yang terus meningkat.
- Harga CPO Naik Menjadi Rp16.050 per Kg, Proyeksi Kenaikan Berlanjut (31 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit Melorot di Sumut dan Naik di Kalbar Pasca Lebaran (26 Maret 2026)
- Harga Referensi CPO April 2026 Naik 5,41% Dipicu Permintaan Global (1 April 2026)
- Ekspor CPO Meningkat 26,4% ke US$4,69 Miliar di Awal 2026 (2 April 2026)
Kontras dengan kondisi di Berau, petani kelapa sawit di Riau mendapatkan kabar gembira. Harga TBS untuk kelompok umur 9 tahun mengalami kenaikan menjadi Rp 3.348,51 per kilogram, setelah ditetapkannya harga baru oleh Dinas Perkebunan Provinsi Riau. Kenaikan ini terjadi setelah kajian oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, yang menunjukkan bahwa penetapan harga berdasarkan tabel rendemen baru dapat memberikan keuntungan bagi petani.
Harga yang stabil dan bahkan meningkat di Riau menimbulkan harapan di tengah ketidakpastian yang dihadapi petani di daerah lain. Namun, dengan adanya penurunan harga yang drastis di daerah seperti Berau, tantangan tetap ada bagi petani untuk mempertahankan kelangsungan usaha mereka. Ketidakpastian ini menciptakan kesenjangan yang perlu dijembatani oleh pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah dan perusahaan-perusahaan pengolah kelapa sawit.
Ke depan, penting bagi industri kelapa sawit untuk menciptakan mekanisme harga yang lebih adil bagi semua pelaku, serta mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi harga komoditas. Stabilitas harga ini tidak hanya penting untuk kesejahteraan petani, tetapi juga untuk keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan.
Sumber:
- Harga Komoditas: Minyak Mentah hingga CPO Stabil, Nikel Turun 0,35% โ Kumparan (2025-05-27)
- Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Selasa (27 per 5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Turun Tipis โ Info Sawit (2025-05-27)
- Harga Sawit Anjlok 8 Kali dalam Sebulan, Ratusan Petani Segah Berau Terpuruk โ Kompas (2025-05-27)
- Petani Sawit Riau Tersenyum: Harga TBS Meroket 0,61% di Minggu ke-17 โ Media Center Riau (2025-05-27)