CPO Mulai Bangkit Tipis di Tengah Perkiraan Stok Malaysia Capai Puncak

Pabrik kelapa sawit ini menghasilkan limbah POME yang mencemari lahan, menunjukkan dampak negatif industri terhadap lingkungan.
(2026/10/05) Harga CPO Bursa Malaysia kontrak acuan rebound tipis ke MYR 4.537 per ton setelah enam hari turun berturut-turut.
(2026/10/05) Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kontrak acuan di Bursa Malaysia Derivatives bergerak naik tipis ke MYR 4.537 per ton pada pagi Senin, meningkat MYR 2 atau 0,04% dari penutupan Jumat lalu di MYR 4.535 per ton.
Pekan lalu, harga CPO mencatatkan penurunan mingguan kedua berturut-turut, melemah sekitar 2,93% dari MYR 4.672 per ton pada Jumat 25 September menjadi MYR 4.535 per ton pada penutupan Jumat 2 Oktober, menurut data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia.
Tekanan harga awal pekan lalu disebabkan oleh lemahnya ekspor Malaysia dan kekhawatiran kenaikan persediaan. Survei Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang September turun antara 17,1% hingga 28,8% dibandingkan Agustus, menurut laporan CNBC yang mengutip Reuters.
- PASPI: Harga CPO Bisa Menyentuh US$1.650–1.720, Produksi Tertekan El Nino dan Kebutuhan B50 Meningkat (1 September 2026)
- Harga CPO Naik 1,06% di Tengah Isu Distribusi Minyakita (22 April 2026)
- Harga CPO KPBN Turun; Bursa Malaysia Melemah karena Kekhawatiran Stok dan Ekspor Lesu (24 September 2026)
- Harga CPO Tembus Rekor MYR5.018, Pasokan dan Cuaca Jadi Kunci hingga Ahir 2026 (22 September 2026)
Public Investment Bank Bhd (PublicInvest) memperkirakan inventori minyak sawit Malaysia akan melebihi tiga juta ton pada September, level tertinggi sejak 2018, dan tren kenaikan inventori telah berlangsung enam bulan berturut-turut, menurut laporan New Straits Times (NST) Malaysia.
Analisis teknikal Reuters yang dikutip CNBC menyebut analis Wang Tao melihat CPO masih bergerak dalam kanal penurunan dan berpotensi menguji level support di MYR 4.499 per ton; penembusan level itu bisa melanjutkan pelemahan menuju MYR 4.445 per ton, sementara penutupan di atas MYR 4.529 per ton dapat mengonfirmasi pola pembalikan naik, kata Wang Tao.
PublicInvest menilai siklus inventori Malaysia kemungkinan mulai turun dari November seiring moderasi pertumbuhan produksi, dengan penurunan inventori yang lebih nyata diperkirakan pada pertengahan 2027 akibat dampak tertunda El Niño pada hasil tandan buah segar (FFB) dan produksi CPO. Institusi itu juga mencatat rata-rata harga CPO year-to-date sebesar RM4,430 per ton dan asumsi penuh tahunannya di RM4,500 per ton.
Faktor eksternal turut membatasi penguatan CPO: penguatan minyak kedelai di Chicago sebesar 0,48% memberikan dukungan komparatif, sementara penurunan harga minyak mentah akibat tambahan pasokan dari Timur Tengah dan pelepasan cadangan G7 mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel, menurut CNBC yang mengutip Reuters. Selain itu, pelemahan ringgit membuat minyak sawit relatif lebih murah bagi pembeli berdenominasi asing.
PublicInvest mempertahankan posisi "Overweight" pada sektor perkebunan dan memilih Sarawak Plantation Bhd serta Ta Ann Holdings Bhd sebagai saham preferensi karena valuasi menarik dan eksposur terhadap potensi perbaikan siklus CPO, demikian laporan NST.
Pergerakan harga selanjutnya akan bergantung pada data ekspor dan level persediaan yang diumumkan bulan ini serta penutupan harian yang disebut Wang Tao; penutupan di atas MYR 4,529 bisa menandai pembalikan, sementara inventori yang memuncak di atas tiga juta ton bisa menekan harga lebih lanjut.
Sumber: