BPDP Ajak Mahasiswa Kembangkan Inovasi Tingkatkan Produktivitas Sawit Tanpa Buka Lahan

Logo BPDP yang terintegrasi dengan latar belakang kebun kelapa sawit, mencerminkan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia.
BPDP meluncurkan Call for Proposal untuk lomba riset mahasiswa 2026โ2027, menantang solusi peningkatan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa perlu ekspansi lahan.
(2026/08/10) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menantang mahasiswa Indonesia untuk menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan melalui Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa 2026โ2027.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan keterlibatan generasi muda penting karena sektor perkebunan membutuhkan gagasan yang dapat diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Alfansyah menegaskan riset mahasiswa diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata industri serta meningkatkan kesejahteraan pekebun perkebunan rakyat.
Anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, Dr. Bandung Sahari, memaparkan bahwa tantangan terbesar industri saat ini adalah peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. Menurut Bandung, sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola oleh pekebun rakyat, sementara lebih dari 90 persen kebun kakao dan kelapa juga berada di tangan pekebun rakyat, sehingga perbaikan produktivitas pada kelompok ini krusial bagi masa depan sektor.
- BPDP dan Ditjenbun Gelar Pelatihan Pupuk Organik untuk 59 Pekebun di Padang (28 Agustus 2026)
- Harga TBS Sawit Jambi Turun Rp32,15/Kg pada Periode 14โ20 Agustus 2026 (15 Agustus 2026)
- Harga TBS Kemitraan Swadaya Riau Turun Rp40,50/kg pada Periode 19โ25 Agustus 2026 (20 Agustus 2026)
- 91 Pekebun OKU Ikuti Pelatihan Budidaya Sawit untuk Dongkrak Produktivitas (5 Agustus 2026)
Bandung menjelaskan hambatan yang spesifik pada pekebun sawit meliputi keterbatasan akses terhadap benih unggul, pupuk, pembiayaan, praktik pembibitan, pengendalian penyakit, hingga penerapan praktik budidaya yang baik. Untuk kakao dan kelapa, persoalan yang disebut meliputi tanaman yang telah tua, dampak perubahan iklim, dan serangan organisme pengganggu tanaman.
Dalam webinar pembukaan, Mohammad Alfansyah memberi penekanan pada aspek aplikatif riset mahasiswa. "Mahasiswa memiliki ruang yang sangat besar untuk menghadirkan perspektif baru dan solusi yang berani. Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat menjawab persoalan nyata serta meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa," ujar Mohammad Alfansyah.
Panitia menjelaskan bahwa Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa merupakan bagian dari dukungan BPDP terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan dan mendorong gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, serta dapat dikembangkan lebih lanjut guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan pekebun. Rincian teknis pendaftaran, batas waktu pengiriman proposal, dan kriteria penilaian disediakan oleh panitia dalam dokumen Call for Proposal yang dibagikan pada webinar.
Sebagai fakta konkret penutup, Dr. Bandung Sahari menyatakan fokus riset harus menjawab pertanyaan bagaimana meningkatkan produktivitas tanpa menambah luasan lahan serta memastikan inovasi tetap terjangkau dan dapat diterapkan oleh pekebun rakyat; porsi pengelolaan rakyat yang mencapai 41 persen untuk sawit dan lebih dari 90 persen untuk kakao dan kelapa menjadi dasar argumen program ini.
Sumber: