Analis: Harga CPO Bisa Kembali ke RM5.000 per ton pada Q1 2027

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.
(2026/10/08) Analis menyatakan harga CPO berpotensi kembali ke RM5.000/ton pada Q1 2027 didorong oleh gangguan pasar minyak bunga matahari dan perkembangan konflik Rusia-Ukraina.
(2026/10/08) Crude palm oil (CPO) berpotensi kembali ke level RM5.000 per ton pada kuartal I-2027, kata Thomas Mielke dari ISTA Mielke GmbH dalam diskusi panel di Malaysian Palm Oil Forum (MPOF) Kuala Lumpur 2026.
Harga yang disebut Mielke juga dapat merebut kembali level US$1.300 per ton untuk harga free-on-board (FOB) palm oil, namun ia menegaskan bahwa waktu pastinya masih belum pasti dan mengasumsikan kemungkinan terjadinya pada Januari mendatang.
Mielke mengaitkan potensi kenaikan itu dengan kemungkinan gangguan pasokan minyak bunga matahari dari wilayah Laut Hitam dan perkembangan konflik Rusia-Ukraina, yang menurutnya dapat mengalihkan permintaan global ke minyak sawit sebagai substituen langsung.
- Harga CPO Menguat di Bursa Malaysia, Harga TBS Sumut Sentuh Rp4.074/kg (29 Agustus 2026)
- Satgas Pangan Polri Awasi Pembelian TBS, Jumlah PKS Tersangka Turun dari 280 ke 194 (24 Juni 2026)
- Harga CPO KPBN Naik, Bursa Malaysia Menguat Sejalan Kenaikan Minyak Nabati Global (12 Juni 2026)
- Kemendag Tetapkan Harga Referensi CPO Agustus 2026 Turun Jadi US$ 996,52/MT; BK dan PE Disesuaikan (3 Agustus 2026)
Dalam presentasinya, Mielke juga memproyeksikan perlambatan laju pertumbuhan produksi palm oil global, dengan estimasi pertumbuhan tahunan menyusut menjadi sekitar 1,3 juta ton atau kurang dalam 10 tahun ke depan hingga 2030, turun dari rata-rata 2,9 juta ton per tahun pada dekade 2010–2020.
Menurut Mielke, pada 2026 palm oil masih menguasai pangsa produksi global minyak/lemak sebesar 31 persen dan pangsa ekspor sebesar 49 persen, sehingga komoditas ini tidak perlu lagi mencari pangsa pasar melalui diskon harga kecuali selama periode kelebihan pasokan sementara.
Panel MPOF yang dimoderatori Eleni Giokos dari Cable News Network menampilkan pula Glenauk Economics managing director Dr Julian McGill dan Nikhil Vallabhan, director chemicals material and nutrition di Frost & Sullivan, yang mendiskusikan implikasi geopolitik dan substitusi minyak nabati; namun laporan menyajikan kutipan langsung hanya dari Thomas Mielke: "We can easily get RM5,000 (CPO prices) back again, and US$1,300 back again for Malaysian FOB palm oil. The question is when. I would assume we will see this back again as early as January."
Analisis produksi dan ekspor yang disampaikan Mielke berimplikasi pada neraca pasokan global; laporan menyebutkan angka pangsa produksi dan ekspor 2026 (31 persen produksi, 49 persen ekspor) sebagai indikator dominasi pasar oleh palm oil, tanpa menyajikan angka volume absolut tahun berjalan dalam kutipan yang tersedia.
Untuk katalis ke depan, Mielke menunjuk perkembangan jalur ekspor minyak bunga matahari dari Laut Hitam dan dinamika konflik Rusia-Ukraina sebagai faktor utama yang dapat mendukung kenaikan harga, sementara prospek pertumbuhan produksi yang lebih lambat hingga 2030 memberi tekanan pasokan jangka menengah.
Sumber: