Airlangga Tekankan Riset untuk Perkuat Implementasi B50 dan Dorong Hilirisasi Sawit

Airlangga Hartanto memberikan pernyataan di rapat formal.
(2026/07/26) Menko Airlangga meminta riset aplikatif diperkuat untuk mendukung implementasi mandatori B50 dan percepatan hilirisasi produk sawit bernilai tambah.
(2026/07/26) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan riset dan inovasi harus diperkuat untuk mendukung implementasi mandatori Biodiesel 50 (B50) dan percepatan hilirisasi produk sawit bernilai tambah.
Penegasan Airlangga disampaikan saat menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta pada akhir pekan lalu, di mana ia mengapresiasi peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam memfasilitasi kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan investor.
Airlangga menyatakan Indonesia perlu lebih banyak riset aplikatif yang menghasilkan teknologi dan produk turunan sawit dengan nilai ekonomi tinggi, serta memberikan perhatian khusus pada integrasi riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri untuk mendorong inovasi yang berdampak langsung pada perekonomian nasional.
- Perkembangan Terbaru Industri Sawit: Penjualan Saham, Teknologi Ramah Lingkungan, dan Kinerja Emiten (27 April 2026)
- Minyak Sawit Merah: Nutrisi Tinggi dan Potensi Kesehatan di Indonesia (3 April 2026)
- Inovasi Energi Terbarukan dan Ekonomi Sirkular dalam Industri Sawit (16 April 2026)
- Inovasi Berkelanjutan: Limbah Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Alternatif BBM (7 April 2026)
Dalam keterangan resmi yang dikutip InfoSAWIT, Airlangga menyebutkan implementasi mandatori B50 mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bukti penerjemahan hasil riset ke kebijakan nasional yang didukung investasi dan kesiapan industri.
Data BPDP yang dipaparkan pada forum menunjukkan sektor sawit tetap menjadi penopang ekonomi: sepanjang 2025 sektor ini menyumbang sekitar 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai ekspor produk sawit mencapai USD 30,87 miliar dan volume 38,84 juta ton, meningkat sekitar 11,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Airlangga juga memuji kontribusi generasi muda di PERISAI, mencatat inovasi mahasiswa yang menghasilkan produk berbasis sawit, antara lain bahan baku polyurethane foam dan material anoda dari tandan buah sawit (TBS), sebagai contoh riset aplikatif yang dapat mendukung hilirisasi.
Menko menjelaskan bahwa keberhasilan B50 harus menjadi pijakan untuk memperluas hilirisasi menuju produk energi terbarukan generasi berikutnya seperti green diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis Used Cooking Oil (UCO), serta bensin berbahan baku sawit, yang dipandang mampu meningkatkan nilai tambah dan memperluas peluang investasi di sektor hilir.
Airlangga mengingatkan bahwa penguatan industri sawit tidak cukup hanya pada peningkatan produksi; penguasaan teknologi, peningkatan produktivitas kebun, pengembangan produk hilir, serta tata kelola yang berkelanjutan harus berjalan bersamaan agar industri tetap kompetitif di pasar global.
Forum PERISAI 2026 juga dijadikan platform bagi akademisi dan pelaku industri untuk bertukar hasil riset dan peluang komersialisasi; Airlangga memberikan apresiasi khusus kepada BPDP yang secara konsisten menyelenggarakan forum kolaborasi tersebut, menurut rilis InfoSAWIT.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa diikuti peserta dari 40 perguruan tinggi, menampilkan inovasi yang relevan bagi hilirisasi dan diversifikasi produk sawit, demikian catatan penyelenggara yang dikutip dalam laporan.
Airlangga menegaskan bahwa pembangunan kapasitas riset dan inovasi serta dukungan kebijakan dan investasi akan menjadi fokus pemerintah untuk mendorong transformasi industri sawit menuju produk bernilai tambah dan energi baru, menurut pernyataan resminya di acara penutupan PERISAI 2026.
Sumber: