Potensi 3,6 miliar m³: Indonesia di Ambang Gelombang Biogas dari Limbah Sawit

Pabrik kelapa sawit ini menghasilkan limbah POME yang mencemari lahan, menunjukkan dampak negatif industri terhadap lingkungan.
BRIN dan peneliti menyatakan POME dari 16,8 juta ha sawit bisa menghasilkan 3,6 miliar m³ biogas per tahun, membuka peluang energi dan pengurangan emisi.
(2026/08/17) Peneliti BRIN dan pelaku industri menilai limpahan limbah pabrik kelapa sawit (POME) berpotensi menghasilkan sekitar 3,6 miliar meter kubik (m³) biogas setiap tahun, angka yang dapat mengubah lanskap energi terbarukan nasional.
Klaim ini muncul setelah perhitungan yang mengaitkan luas perkebunan kelapa sawit nasional sekitar 16,8 juta hektare dan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 250 juta ton per tahun dengan rasio konversi limbah: setiap 1 ton TBS menghasilkan sekitar 0,5 ton POME.
Perhitungan teknis lain yang dikutip dalam paparan menyebut setiap 1 ton POME dapat menghasilkan sekitar 28,8 m³ biogas melalui penerapan teknologi methane capture; mengalikan angka tersebut dengan potensi POME nasional 125 juta ton per tahun menghasilkan estimasi 3,6 miliar m³ biogas per tahun.
- Optimalisasi Limbah Sawit dan Hilirisasi: Strategi Perkuat Ekonomi Nasional (12 April 2026)
- Inovasi Energi Sawit: Dari Limbah Menjadi Bensin Rendah Emisi (8 April 2026)
- Minyak Sawit Merah: Nutrisi Tinggi dan Potensi Kesehatan di Indonesia (3 April 2026)
- Inovasi Berkelanjutan: Limbah Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat dan Alternatif BBM (7 April 2026)
Teknologi, angka, dan manfaat lingkungan
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menyatakan POME mengandung bahan organik tinggi dan tersedia terus-menerus selama pabrik kelapa sawit beroperasi, sehingga menjadi bahan baku strategis untuk biogas.
Erma juga menyampaikan bahwa pengolahan POME menjadi biogas mampu mengurangi pelepasan metana dari kolam limbah terbuka; menurut pernyataannya, fasilitas biogas mampu mengurangi emisi sekitar 1.131 ton CO₂ ekuivalen per bulan.
Dari sisi teknologi, pemanfaatan methane capture pada digestor POME tidak hanya menghasilkan biogas, tetapi menurunkan kandungan bahan organik, mengurangi bau, serta menekan risiko pencemaran air dan tanah—manfaat lingkungan yang eksplisit dikemukakan sebagai bagian dari argumen BRIN.
Potensi ekonomi dan penggunaan energi
Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, memperkirakan konversi 1 ton POME menjadi 28,8 m³ biogas; menurut Tungkot, biogas tersebut bisa digunakan untuk pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan pabrik, rumah karyawan, kantor, maupun masyarakat sekitar pabrik sawit.
Tungkot menambahkan bahwa selain listrik dan panas, biogas yang dimurnikan menjadi bio-CNG berpotensi memenuhi kebutuhan transportasi dan industri; estimasi 3,6 miliar m³ per tahun membuka peluang bisnis energi baru dan nilai tambah bagi rantai hilir sawit.
Dari sisi skala, potensi 125 juta ton POME per tahun menjadi indikator kuantitatif bahwa pasokan bahan baku tersedia secara kontinu jika teknologi dan investasi terpenuhi, klausul penting yang diulang oleh sumber-sumber yang diwawancarai.
Hambatan regulasi, investasi, dan tata kelola
Meski angka potensi besar, isu tata kelola lahan dan kepastian hukum masih muncul sebagai faktor penghambat investasi; perdebatan terkait kawasan hutan dan kebun sawit sebelumnya disebut berdampak pada produksi dan kepastian usaha oleh sumber lain yang menyorot penertiban kawasan hutan.
Sumber-sumber yang menyinggung penertiban kawasan hutan mencatat data keterlanjuran dan upaya satgas yang menertibkan mencapai jutaan hektare—kondisi yang, menurut mereka, bisa menekan kinerja industri dan menyulitkan pemilik pabrik untuk melaksanakan proyek inovasi seperti instalasi pengolahan POME berskala besar.
Selain regulasi lahan, penerapan teknologi methane capture memerlukan investasi awal untuk pembangunan digestor, sistem penangkapan gas dan pemurnian; narasi sumber menempatkan kebutuhan modal, kemampuan teknis pabrik, dan kerangka insentif sebagai syarat agar potensi 3,6 miliar m³ bisa terealisasi secara komersial.
Upaya pengembangan biogas juga dipandang mampu membuka lapangan kerja dalam pembangunan, operasi, dan pemeliharaan fasilitas biogas—manfaat sosial yang disebut oleh Erma selain keuntungan lingkungan dan energi.
Rangka waktu implementasi dan peta skala nasional belum dirinci secara kuantitatif dalam paparan, tetapi angka-angka konkrit yang disampaikan: 16,8 juta hektare luas sawit, 250 juta ton TBS per tahun, 0,5 ton POME per ton TBS, 125 juta ton POME per tahun, 28,8 m³ biogas per ton POME, dan estimasi 3,6 miliar m³ biogas per tahun menjadi tolok ukur target pembangunan industri biogas berbasis limbah sawit.
Sumber:
- Indonesia Berpotensi Jadi Raja Biogas Sawit Dunia, Produksi Bisa Capai 3,6 Miliar m³ — indoposco.id
- Biogas Sawit Berpotensi jadi Bisnis Energi Baru, Capai 3,6 Miliar Meter Kubik per Tahun — voi.id
- Limbah Sawit Jadi Harta Karun Energi, Indonesia Berpotensi Produksi 3,6 M³ Biogas per Tahun — Sawit Setara
- Peneliti BRIN Menilai Indonesia Berpeluang Jadi Raja Biogas Sawit Dunia — TVOne