BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Penurunan Ekspor dan Kenaikan Harga CPO Warnai Pasar Minyak Sawit Indonesia

22 Februari 2026|Penurunan Ekspor dan Kenaikan Harga CPO
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Penurunan Ekspor dan Kenaikan Harga CPO Warnai Pasar Minyak Sawit Indonesia

Gambar menunjukkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buah kelapa sawit segar di Indonesia.

Ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan signifikan pada awal tahun 2025, sementara harga referensi CPO untuk periode April menunjukkan kenaikan yang mencolok.

Indonesia mengalami dinamika pasar yang menarik di sektor minyak sawit, dengan ekspor yang mengalami penurunan signifikan dan harga referensi CPO yang justru menunjukkan tren kenaikan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan bahwa total ekspor minyak sawit pada bulan Januari 2025 mencapai 1.960 ribu ton, turun 100 ribu ton dibandingkan bulan Desember 2024 yang mencapai 2.060 ribu ton.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya permintaan dari negara-negara tujuan utama, seperti Pakistan dan China, yang masing-masing mengalami penurunan ekspor hingga 53% dan 42%. Secara keseluruhan, penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan dalam berbagai kategori produk, termasuk oleokimia dan CPO. Ekspor oleokimia turun dari 428 ribu ton pada Desember 2024 menjadi 388 ribu ton, sedangkan ekspor CPO anjlok drastis dari 69 ribu ton menjadi hanya 39 ribu ton.

Sementara itu, meskipun ekspor mengalami penurunan, harga referensi untuk komoditas minyak kelapa sawit (CPO) menunjukkan tren positif. Dalam pengumuman terbaru, Kementerian Perdagangan Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk periode April 2025 sebesar US$961,54 per metrik ton, naik sebesar US$7,03 atau 0,74% dari harga bulan Maret yang tercatat sebesar US$954,50 per metrik ton.

Menurut Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Isy Karim, kenaikan harga ini tidak terlepas dari beberapa faktor, termasuk penurunan suplai akibat curah hujan yang tinggi di wilayah Sumatera dan Malaysia, serta penurunan permintaan dari India dan China. Meskipun harga referensi naik, penetapan Bea Keluar (BK) untuk CPO tetap tidak berubah, menggambarkan kondisi pasar yang kompleks.

Ketidakpastian dalam pasar minyak sawit global masih menjadi tantangan bagi industri. Penurunan permintaan dari negara-negara pengimpor utama dan fluktuasi harga dapat mempengaruhi daya saing produk minyak sawit Indonesia. Para pelaku industri diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi ini guna menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan sektor kelapa sawit, yang merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia.

Sumber:

  • Ekspor Minyak Sawit Januari 2025 Turun Drastis, Ini Penyebabnya โ€” Agrofarm (2025-03-29)
  • Harga Referensi CPO Periode April Naik Jadi US$961,54 โ€” Sawit Indonesia (2025-03-29)
  • Pungutan Ekspor CPO Menguat Jadi US$ 961,54 Per Metrik Ton, Bea Keluar Tetap โ€” Kontan (2025-03-29)