Pemerintah Indonesia Upayakan Tarif Nol Persen untuk Ekspor Ke AS

Airlangga Hartarto memberikan pidato terkait perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia berupaya menghilangkan tarif impor untuk komoditas unggulan seperti CPO, kopi, dan kakao dalam negosiasi dengan AS.
(2025/07/21) Indonesia menyaksikan upaya intensif pemerintah dalam memperkuat diplomasi dagang dengan Amerika Serikat (AS), dengan target ambisius untuk menurunkan tarif impor menjadi 0% bagi sejumlah komoditas unggulan. Dalam konteks ini, crude palm oil (CPO), kopi, kakao, dan nikel menjadi fokus utama, terutama menjelang batas akhir penetapan tarif pada 1 Agustus 2025.
Setelah berhasil menurunkan tarif tambahan dari 32% menjadi 19%, pemerintah masih merasa perlu untuk melanjutkan negosiasi guna mendorong daya saing ekspor Indonesia. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa meskipun tarif final saat ini sudah ditetapkan, masih ada ruang untuk negosiasi lebih lanjut. “Presiden sudah menegaskan, meski tarif final ditetapkan 19%, ruang negosiasi masih ada,” ujarnya dalam konferensi pers.
Untuk menarik perhatian AS, daftar komoditas yang diusulkan untuk mendapatkan tarif preferensial juga bersifat dinamis, di mana pemerintah membuka kemungkinan untuk menambah komoditas lain sebelum diajukan secara resmi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk Indonesia di pasar AS yang semakin kompetitif.
- Perundingan IEU CEPA dan Peran Pers dalam Sektor Pertanian: Langkah Strategis untuk Indonesia (23 Februari 2026)
- Optimisme Pemerintah dalam Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 5% di Tengah Ketidakpastian Global (23 Februari 2026)
- Kebijakan DMO dan Dampaknya Terhadap Produksi Minyakita (22 Februari 2026)
- Dampak Kebijakan Tarif Trump Terhadap Sektor Industri dan Tenaga Kerja Indonesia (22 Februari 2026)
Namun, tidak semua pihak optimis terhadap hasil negosiasi ini. M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mencatat bahwa kesepakatan tarif sebelumnya dianggap diskriminatif. Ia menggarisbawahi bahwa bea masuk produk asal AS ke Indonesia tetap nol persen, yang dapat merugikan posisi Indonesia dalam hubungan dagang bilateral. Menurut analisis Indef, hal ini berpotensi menurunkan investasi di Indonesia hingga 0,061%.
Dengan situasi ini, penting bagi pemerintah Indonesia untuk tidak hanya fokus pada pengurangan tarif, tetapi juga pada penyeimbangan hubungan dagang yang lebih adil. Negosiasi yang sedang berlangsung menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa produk-produk unggulan Indonesia mendapatkan kesempatan yang adil di pasar internasional.
Keberhasilan dalam negosiasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sektor perekonomian Indonesia, khususnya bagi para petani dan pelaku industri yang bergantung pada ekspor komoditas unggulan. Seiring dengan upaya diplomasi ini, pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan bersiap untuk mengambil langkah strategis demi kepentingan ekonomi nasional.
Sumber:
- Genjot Diplomasi Dagang ke AS, Pemerintah RI Targetkan Tarif Nol Persen untuk Sawit — Sawit Indonesia (2025-07-21)
- Negosiasi Tarif Ekspor ke AS: Indonesia Incar 0% untuk CPO, Kakao, dan Tekstil — Kontan (2025-07-21)
- Kesepakatan Tarif Trump Bikin Investasi Indonesia Bisa Turun 0,061% — MetroTV (2025-07-21)
- Masih Ada Ruang Negosiasi, Indonesia Ingin CPO Hingga Nikel Bebas Tarif AS — Kontan (2025-07-21)
- Pemerintah Terus Lakukan Negosiasi Tarif 0% untuk Sejumlah Komoditas Ekspor Unggulan ke AS — Sawit Indonesia (2025-07-21)