BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Deforestasi & Lahan

Kawasan Hutan di Sumatera Capai 48%, Ekspansi Sawit Jadi Sorotan

17 Maret 2026|Degradasi ekosistem DAS Nyireh
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Kawasan Hutan di Sumatera Capai 48%, Ekspansi Sawit Jadi Sorotan

Perambahan hutan untuk industri kelapa sawit terlihat jelas dengan kayu yang ditebang dan jejak penyisiran tanah.

Luas kawasan hutan di Sumatera mencapai 48%, sementara ekspansi sawit di DAS Nyireh di Bangka Selatan mengancam ekosistem. Pentingnya pengelolaan lahan berkelanjutan semakin mendesak.

(2026/03/16) Data terbaru menunjukkan bahwa kawasan hutan di Pulau Sumatera mencapai 48% dari total daratan, sedangkan perkebunan kelapa sawit hanya mencakup 17%. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan kini menghadapi tantangan serius akibat degradasi ekosistem di Daerah Aliran Sungai (DAS) Nyireh, di mana tutupan hutan menyusut hingga kurang dari 10%.

Menurut kajian yang disampaikan oleh Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (FORDAS Babel), aktivitas perkebunan kelapa sawit di kawasan rawa hulu telah menyebabkan sedimentasi saluran irigasi dan penurunan debit air yang berdampak pada ribuan hektare sawah. Ini menambah kompleksitas isu lingkungan yang dihadapi Indonesia, terutama di daerah dengan ekosistem rawan seperti Bangka Selatan.

Pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan industri sawit dan kelestarian alam semakin mendesak. Regulasi yang mengatur pembagian kawasan antara hutan dan area budidaya menjadi kunci untuk menjaga keanekaragaman hayati. Namun, kenyataannya, ekspansi sawit seringkali mengancam keberadaan hutan, yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap karbon dan pelindung sumber daya air.

Di Pulau Sumatera, kawasan hutan mendominasi dengan luas mencapai 22,6 juta hektar, sedangkan perkebunan sawit hanya mencapai 17% dari total luas daratan. Regulasi tata kelola yang ada telah berupaya memisahkan antara area hutan dan bagian budidaya, tetapi implementasi di lapangan masih menjadi tantangan besar. Dalam konteks ini, tindakan pemulihan dan rehabilitasi ekosistem di DAS Nyireh diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika tidak ada tindakan nyata, dampak dari ekspansi sawit dapat memperparah kondisi lingkungan dan berdampak langsung pada ketahanan pangan di daerah tersebut. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri sangat diperlukan untuk menciptakan model pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hutan dan ekosistem yang ada harus terus ditingkatkan. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara bijaksana, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan ekonomi saat ini, tetapi juga menjaga kelestarian untuk generasi mendatang.

Sumber:

  • Tutupan Hutan DAS Nyireh Sisa 10%, Ekspansi Sawit di Bangka Selatan Jadi Perhatian โ€” HAISAWIT (2026-03-16)
  • Data Penggunaan Lahan, Luas Kawasan Hutan di Sumatera Capai 48 Persen, Sawit Hanya 17 Persen โ€” HAISAWIT (2026-03-16)