Harga CPO Menguat di Tengah Risiko El Niño dan Implementasi B50, Menekan Pasokan Global

Seorang analis laboratorium mengenakan jas lab dan kacamata pelindung sedang mengamati sampel minyak sawit berwarna jingga dalam labu erlenmeyer. Meja laboratorium dipenuhi botol sampel dan peralatan analisis mutu.
Analis CNBC menyebut risiko El Niño dan kenaikan permintaan domestik untuk B50 menekan pasokan CPO global sehingga menopang tren kenaikan harga sepanjang 2026.
(2026/09/27) Harga crude palm oil (CPO) terus menguat sepanjang 2026 karena pasar mengantisipasi gangguan produksi akibat fenomena El Niño dan lonjakan permintaan domestik dari program B50, kata ESG Analyst CNBC Indonesia Research Salma Laiqa dalam Squawk Box pada 23 September 2026.
Salma Laiqa menyampaikan bahwa sentimen pasar kini didorong oleh risiko penurunan pasokan CPO global, termasuk proyeksi penurunan produksi di Indonesia yang bisa mencapai 2-7% pada 2027, sehingga memicu ekspektasi kenaikan harga. Dia menilai kombinasi gangguan cuaca dan dinamika pasar minyak nabati dunia menjadi faktor utama yang menopang tren penguatan harga sepanjang tahun ini.
Selain faktor cuaca, permintaan ekspor terutama dari India disebut Salma sebagai pendorong tambahan tekanan pasokan. Pada saat yang sama, implementasi program B50 domestik meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel, sehingga volume yang tersedia untuk ekspor berpotensi menyusut. Penurunan volume ekspor dan permintaan biodiesel domestik menjadi dua kanal yang menurutnya membuat pasar global lebih ketat.
- Harga CPO KPBN Naik Tipis; Impor Minyak Nabati India Dorong Permintaan (17 September 2026)
- Harga CPO KPBN Naik Tipis, Kontrak Bursa Malaysia Melemah Tapi Catat Kenaikan Mingguan Kedua (18 Juli 2026)
- Harga CPO dan TBS Sawit Turun, Minyak Goreng Rentan Naik di Pasar (24 April 2026)
- Harga Kelapa Sawit Swadaya Sumut Pekan Ini Rp2.700–Rp3.360 per kg, Permintaan PKS Dorong Selisih Wilayah (26 Juni 2026)
Detail operasional dari sisi permintaan domestik muncul karena pergeseran kebijakan pencampuran biodiesel; B50 berarti rasio campuran yang lebih tinggi dibanding B30 sebelumnya, sehingga kebutuhan bahan baku CPO untuk pabrik biodiesel meningkat. Salma menjelaskan bahwa tekanan pasokan ini akan terasa apabila produksi kehilangan persentase yang diprediksi, namun dia tidak mengeluarkan angka harga target tertentu dalam pernyataannya.
Respons pelaku pasar tercermin pada perdagangan minyak nabati internasional yang menimbang data cuaca dan kebijakan biodiesel. Salma juga menyinggung bahwa dinamika harga minyak nabati lain memengaruhi aliran substitusi komoditas dan sentimen spekulator, sehingga pergerakan CPO tidak hanya berakar pada pasokan fisik tetapi juga ekspektasi pasar terhadap pasokan global ke depan.
Pengaruh El Niño yang disebut Salma didukung oleh prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi kekeringan di wilayah produsen utama; kombinasi ini dengan kebutuhan domestik yang meningkat bisa membuat realisasi produksi Indonesia pada 2027 lebih rendah dibanding 2026 jika prediksi 2-7% penurunan menjadi kenyataan. Salma menegaskan bahwa pasar telah mulai memperhitungkan skenario pasokan yang lebih ketat tersebut dalam penetapan harga saat ini.
Sebagai fakta konkret penutup, pernyataan sumber menyebut estimasi penurunan produksi Indonesia sebesar 2-7% pada 2027 dan tanggal dialog publiknya, yaitu wawancara Salma Laiqa di Squawk Box, CNBC Indonesia pada Rabu, 23 September 2026.
Sumber: