BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Harga CPO & PKO

Dinamika Harga CPO dan TBS di Tengah Ketidakpastian Global

22 Februari 2026|Fluktuasi Harga CPO dan TBS
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Dinamika Harga CPO dan TBS di Tengah Ketidakpastian Global

Proses penggorengan makanan menggunakan minyak goreng, menunjukkan peran produk hilir sawit dalam industri makanan Indonesia.

Perang Rusia-Ukraina dan kebijakan baru pemerintah berkontribusi pada fluktuasi harga minyak sawit dan tandan buah segar di Indonesia.

Dalam tiga tahun terakhir, perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan dampak signifikan di banyak sektor, termasuk industri pangan dan energi global. Hal ini turut mempengaruhi harga minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) di Indonesia. Saat ini, meski pemerintah telah meluncurkan program B40 untuk meningkatkan penggunaan biodiesel, harga TBS mengalami penurunan yang tidak terduga.

Perang yang dimulai pada 24 Februari 2022 ini terus berlangsung dan memberikan dampak yang mendalam terhadap stabilitas ekonomi global. Ukraina, sebagai salah satu eksportir utama gandum dan minyak bunga matahari, mengalami gangguan besar dalam produksi dan distribusi, yang memicu lonjakan harga pangan secara global. Dengan situasi ini, sektor kelapa sawit Indonesia seolah tak luput dari dampak tersebut, termasuk kebijakan baru pemerintah untuk meningkatkan penggunaan biodiesel.

Pemerintah Indonesia resmi menerapkan program B40 pada tahun ini, yang ditujukan untuk meningkatkan penggunaan minyak nabati dalam produksi biodiesel. Rencananya, program ini akan membutuhkan sekitar 14,2 juta ton CPO untuk memenuhi alokasi biodiesel. Namun, meski harapan awalnya adalah agar program ini dapat menjaga harga CPO dan TBS, kenyataannya, harga TBS justru mengalami penurunan. Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, mengungkapkan bahwa peralihan dari B20 ke B30 pada tahun 2019 sebelumnya membuat harga CPO domestik meningkat. Namun, kali ini, situasi tampak berbeda.

Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan bahwa kenaikan pajak impor CPO oleh India juga akan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. India, yang merupakan salah satu importir terbesar minyak sawit Indonesia, akan mengalami dampak yang signifikan jika kebijakan pajak ini berlangsung lama. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa India dan China adalah dua negara terbesar tujuan ekspor CPO Indonesia, sehingga adanya kenaikan pajak impor di India dapat menurunkan daya saing CPO Indonesia di pasar internasional.

Dampak dari situasi ini adalah ketidakpastian yang melanda industri sawit Indonesia. Para petani dan pelaku industri perlu bersiap menghadapi fluktuasi harga yang mungkin terjadi, terutama dengan adanya kebijakan baru dan kondisi geopolitik yang tidak menentu. Harapan untuk menjaga stabilitas harga TBS dan CPO harus diimbangi dengan strategi yang lebih adaptif agar industri kelapa sawit tetap dapat tumbuh di tengah tantangan yang ada.

Sumber:

  • 3 Tahun Perang Rusia-Ukraina, Harga Beras - Minyak Goreng Melambung! โ€” CNBC (2025-02-23)
  • Ada Program B40, Harga TBS Sawit Malah Turun โ€” Kontan (2025-02-23)
  • Gapki: Kenaikan Pajak Impor India akan Pengaruhi Kinerja Ekspor CPO โ€” Kontan (2025-02-23)