Dinamika Harga CPO dan Dampaknya Terhadap Pasar Sawit di Indonesia

Gambar menunjukkan crude palm oil (CPO) dalam wadah, menggambarkan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Harga CPO mengalami fluktuasi yang signifikan, dipengaruhi oleh tren impor dari India dan kondisi pasar global yang beragam.
Dinamika harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Indonesia menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Dalam laporan terbaru, harga CPO hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada 24 April 2025 tercatat mengalami penurunan tipis sekitar Rp 13 per kilogram, menjadi Rp 14.488 per kilogram. Penurunan ini terjadi setelah harga CPO sebelumnya naik Rp 100 per kilogram pada perdagangan sehari sebelumnya.
Meski mengalami penurunan, harga CPO di tingkat global menunjukkan tanda-tanda perbaikan. India, yang sebelumnya menahan pembelian selama lima bulan, kembali meningkatkan impor CPO sejak awal April 2025. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga CPO yang membuatnya lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai. Menurut Sandeep Bajoria, CEO Sunvin Group, para pelaku industri penyulingan di India mulai melakukan pemesanan guna mengisi kembali stok yang menipis, dengan harga CPO untuk pengiriman Mei ditawarkan sekitar USD 1.050 per ton.
Sementara itu, pasar Malaysia juga mengalami penurunan harga CPO di bawah MYR 4.030 per ton, meskipun terdapat harapan akan peningkatan ekspor antara 11,9% hingga 18,5% dalam 20 hari pertama bulan April. Kenaikan ekspor ini menunjukkan permintaan yang lebih baik dari negara tujuan, meskipun pedagang tetap berhati-hati menjelang berakhirnya penangguhan tarif AS pada bulan Juli.
- Harga TBS Sawit Sumut Mencapai Rp4.059,20 per Kg pada Awal April 2026 (3 April 2026)
- Harga CPO Diprediksi Naik hingga RM4.600 per Ton di 2026 (5 April 2026)
- Kinerja CPO Positif 2026, Petani Minta Cangkang Dihitung dalam Harga (29 Maret 2026)
- Harga TBS Sawit Riau Naik Menjadi Rp 3.950,63 per Kg di Awal April 2026 (31 Maret 2026)
Di sisi lain, harga tandan buah segar (TBS) sawit di Sumatra Utara terus mengalami penurunan, mencapai Rp 3.597,71 per kilogram. Penurunan ini disebabkan oleh anjloknya harga CPO di pasar dunia. Analis dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut mengungkapkan bahwa selisih harga TBS minggu ini cukup dalam, mencapai 59,97 poin dari minggu sebelumnya.
Dalam konteks ini, Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menegaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah juga turut mempengaruhi dinamika pasar sawit. Ia menekankan pentingnya optimasi kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) untuk memperkuat devisa negara. Saat ini, Indonesia harus menghadapi tantangan yang tidak mudah, namun potensi untuk pemulihan tetap ada asalkan kebijakan yang tepat diterapkan.
Berbagai faktor ini menunjukkan bahwa meskipun harga CPO mengalami penurunan, ada harapan dari peningkatan permintaan global, terutama dari India, yang dapat membantu menstabilkan pasar. Namun, pelaku industri harus tetap waspada terhadap fluktuasi harga dan kondisi pasar yang dapat berubah dengan cepat, terutama menjelang akhir bulan dan penangguhan tarif yang akan berakhir.
Sumber:
- Rupiah Diproyeksi Akan Lanjut Melemah, Ini Analisisnya โ CNBC (2025-04-24)
- Habis Naik, Turun Pula Harga CPO Hasil Tender PT KPBN Periode 24 April 2025 โ Media Perkebunan (2025-04-24)
- Harga Turun, India Kembali Tingkatkan Impor Minyak Sawit Setelah Lima Bulan Lesu โ Info Sawit (2025-04-24)
- Ekspor dari Malaysia Meningkat, Harga CPO Membaik โ Kontan (2025-04-24)
- Harga Komoditas: Batu Bara Turun 0,21 Persen, CPO Naik 1,71 Persen โ Kumparan (2025-04-24)
- Harga CPO KPBN Inacom Turun Tipis Pada Kamis (24 per 4), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Ketat โ Info Sawit (2025-04-24)
- Harga Uang Koin Rp 1.000 Gambar Kelapa Sawit Capai Rp 120 Juta, Benarkah โ Kompas (2025-04-24)
- Harga TBS Sawit Sumut Hari Ini (244) Turun Lagi, Selisih Terbesar Rp59,97 per Kg โ Bisnis Indonesia (2025-04-24)