Dampak Investasi Eropa Terhadap Komunitas Lokal di DRC: Kasus PHC dan Kelapa Sawit

Satgas PKH melakukan penyitaan lahan sawit di kawasan hutan negara.
Komunitas di Republik Demokratik Kongo mendesak transparansi dalam penguasaan lahan oleh perusahaan kelapa sawit PHC, menyoroti dampak investasi Eropa terhadap hak tanah.
Komunitas yang tinggal di sekitar perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan Palm Oil Holdings Company (PHC) di timur laut Republik Demokratik Kongo (DRC) sedang berjuang untuk mendapatkan kembali hak atas tanah seluas lebih dari 58.000 hektar. Mereka menuntut akses kepada dokumen kepemilikan lahan untuk menentukan batas-batas konsesi yang dikuasai perusahaan tersebut, sambil menuduh beberapa bank pembangunan Eropa, termasuk DEG dari Jerman, telah mendukung pengambilalihan lahan tersebut melalui pinjaman sebesar $150 juta, yang menurut mereka melanggar prinsip-prinsip kesepakatan pinjaman.
Konflik ini memuncak pada 24 Mei 2024, ketika terjadi bentrokan antara anggota komunitas lokal dan petugas keamanan di salah satu perkebunan kelapa sawit milik PHC. Insiden tersebut hanya satu dari sekian banyak kejadian yang menunjukkan ketegangan yang meningkat antara masyarakat setempat dan perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Masyarakat mengklaim bahwa aktivitas perkebunan kelapa sawit telah merugikan mereka secara ekonomi dan sosial, mengancam mata pencaharian mereka, serta memperparah ketidakadilan akses terhadap sumber daya alam.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dan tanggung jawab sosial dalam investasi asing, terutama dari lembaga keuangan Eropa yang terlibat dalam proyek-proyek yang berpotensi merugikan komunitas lokal. Sebagai respons terhadap situasi ini, sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) telah meminta kepada lembaga-lembaga tersebut untuk meninjau kembali kebijakan mereka dan memastikan bahwa investasi yang mereka dukung tidak menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia atau pengambilalihan lahan secara ilegal.
- Perdagangan Kelapa Sawit RI-Malaysia Meningkat di Tengah Tantangan Global (22 Februari 2026)
- Persyaratan Ekspor Minyak Sawit ke Swedia dan Amerika Serikat 2026 (2 April 2026)
- Peningkatan Kerjasama Investasi dan Keberlanjutan di Sektor Kelapa Sawit Indonesia (23 Februari 2026)
- Indonesia Hadapi Tantangan dalam Sengketa Sawit dan Legalitas Petani (13 Maret 2026)
Dalam konteks yang lebih luas, perhatian global terhadap praktik buruk dalam industri kelapa sawit semakin meningkat. Berbagai laporan menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang beroperasi di negara-negara berkembang, termasuk DRC, sering kali mengabaikan hak-hak masyarakat lokal demi keuntungan ekonomi semata. Oleh karena itu, komunitas di DRC yang terpengaruh oleh aktivitas PHC berharap dapat mendapatkan dukungan dari pemerintah dan organisasi internasional untuk memperjuangkan hak-hak mereka terhadap lahan dan sumber daya yang telah mereka kelola selama bertahun-tahun.
Harapan para aktivis dan masyarakat lokal adalah agar kasus mereka menjadi titik balik bagi kebijakan investasi yang lebih adil dan berkelanjutan, yang tidak hanya mempertimbangkan keuntungan finansial namun juga dampak sosial dan lingkungan. Dengan adanya kesadaran dan dukungan yang lebih besar, diharapkan ke depannya akan ada perubahan positif dalam pengelolaan sumber daya alam di DRC dan negara-negara lainnya yang menghadapi tantangan serupa.
Sumber:
- DRC communities turn up heat on EU lenders funding palm oil giant PHC — Mongabay English (2024-08-12)