BeritaSawit.id
๐Ÿ“Š Memuat data pasar...
Emisi & Karbon

Tantangan dan Upaya Penanganan Karhutla di Indonesia: Dari Kalimantan Hingga Tesso Nilo

3 Juli 2025|Penanganan Karhutla Indonesia
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Tantangan dan Upaya Penanganan Karhutla di Indonesia: Dari Kalimantan Hingga Tesso Nilo

Gambar ini menunjukkan kebun sawit yang luas di Indonesia, terlihat dari sudut pandang udara.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi isu serius di Indonesia, dengan langkah-langkah penanganan yang terus dilakukan untuk mengatasi dampaknya.

(2025/07/03) Indonesia menyaksikan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan dan Riau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2025 akan membawa tantangan serius, terutama antara bulan Juni hingga September, di mana risiko karhutla diperkirakan akan meluas. Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar, Daniel, menyebutkan bahwa pada tahun 2024 terdapat 271 hotspot terdeteksi di Kalbar, menandakan potensi ancaman yang harus diwaspadai masyarakat.

Di sisi lain, tindakan tegas terhadap penanaman kelapa sawit ilegal terus dilakukan di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Pada 2 Juli 2025, Kementerian Kehutanan meratakan 300 hektare kebun sawit ilegal yang dibongkar oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Direktur Penindakan Pidana Kehutanan, Rudianto Saragih Napitu, menjelaskan bahwa pendekatan restoratif justice diterapkan, di mana pelaku harus mengembalikan fungsi hutan yang rusak. Ini menjadi bagian dari upaya untuk mengembalikan hutan Tesso Nilo sebagai habitat gajah yang semakin terancam.

Polda Riau juga menggencarkan kampanye penyelamatan hutan Tesso Nilo, mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga ekosistem tersebut. Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, menekankan pentingnya menjaga kawasan konservasi agar tidak hanya menjadi tempat tinggal satwa, tetapi juga untuk mencegah kepunahan spesies seperti gajah. Dalam konteks ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau mendesak agar semua pelaku perambahan hutan diusut secara hukum tanpa pandang bulu, mencerminkan keprihatinan yang mendalam terhadap kerusakan lingkungan.

Di tempat lain, kebakaran lahan seluas 28 hektare di Rokan Hulu, Riau, memerlukan respons cepat dari pihak kepolisian dan BPBD, yang menerjunkan helikopter untuk melakukan water bombing. Kapolres Rokan Hulu, AKBP Emil Eka Putra, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam penanganan karhutla, mengingat dampak yang ditimbulkan tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Dengan berbagai upaya penanganan yang dilakukan, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk mengatasi masalah karhutla yang terus mengancam ekosistem Indonesia. Kesadaran dan partisipasi aktif dari semua pihak menjadi kunci dalam menjaga kelestarian hutan dan lahan, yang merupakan sumber kehidupan bagi banyak spesies, termasuk manusia.

Sumber:

  • Risiko Karhutla Meluas di Kalbar โ€” Sawit Indonesia (2025-07-03)
  • 300 Hektare Kebun Sawit Ilegal di TN Tesso Nilo Rata dengan Tanah โ€” Kompas (2025-07-03)
  • Diduga Tampung Sawit Dari Kawasan Konservasi, PT TKWL di Bungaraya Siak Langgar Prinsip ISPO, Mirip TNTN Nih! โ€” Elaeis (2025-07-03)
  • Rakor Monitoring Bersama BNPB, Al Haris: Jambi Bebas Asap Karhutla โ€” Detik (2025-07-03)
  • Mengembalikan Hutan Tesso Nilo sebagai Rumah Gajah โ€” Detik (2025-07-03)
  • LAM Riau Desak Perambah di TNTN Dipidana, Tak Cukup Hanya Serahkan Lahan โ€” Detik (2025-07-03)
  • Polisi dan BPBD Turun Atasi Karhutla 28 Ha di Rohul, Lakukan Water Bombing โ€” Detik (2025-07-03)