BeritaSawit.id
📊 Memuat data pasar...
Amerika & Afrika

Pengusaha Sawit Indonesia Khawatir Ekspor CPO Tertekan Tarif Trump

8 Juli 2025|Ekspor CPO dan Tarif Trump
Bagikan:WhatsAppXLinkedIn
Pengusaha Sawit Indonesia Khawatir Ekspor CPO Tertekan Tarif Trump

Prabowo memberikan pidato di Brussels untuk membahas industri kelapa sawit Indonesia dan isu-isu terkait.

Tarif 32% yang dikenakan oleh AS terhadap minyak kelapa sawit Indonesia berpotensi menurunkan kinerja ekspor dan pangsa pasar di Amerika.

(2025/07/08) Pengusaha kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan baru setelah Amerika Serikat tetap memberlakukan tarif resiprokal sebesar 32% terhadap ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dari Indonesia. Kebijakan ini dikhawatirkan akan berdampak negatif pada kinerja ekspor CPO yang selama ini terus meningkat, terutama ke pasar AS.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menyatakan bahwa meskipun volume ekspor CPO Indonesia ke AS mencapai puncaknya pada tahun 2023 dengan lebih dari 2,5 juta ton, tren penurunan sudah mulai terlihat pada tahun 2024, di mana volume ekspor hanya mencapai 2,2 juta ton. Pangsa pasar CPO Indonesia di AS saat ini masih cukup dominan dengan angka 89%, namun masa depan pangsa pasar ini terlihat suram jika tarif tetap tinggi.

Eddy menambahkan, ketidakpastian mengenai berapa banyak penurunan volume ekspor yang akan terjadi jika tarif tetap 32% masih sulit diprediksi. Namun, dampak dari tarif tersebut sudah mulai dirasakan oleh para importir di AS yang mungkin mempertimbangkan kembali keputusan pembelian mereka.

Di sisi lain, pengamat ekonomi Mohammad Faisal dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menegaskan bahwa tarif 32% yang dikenakan AS lebih tinggi dibandingkan tarif yang dikenakan kepada negara kompetitor seperti Malaysia, yang hanya sebesar 25%. Perbedaan tarif ini berpotensi menyebabkan pangsa pasar ekspor CPO Indonesia di AS menyusut, karena importir mungkin lebih memilih untuk mengimpor dari Malaysia yang lebih menguntungkan.

“Dengan adanya perbedaan tarif ini, maka berpotensi share ekspor CPO Malaysia ke Amerika akan meningkat. Walaupun secara keseluruhan, Indonesia tetap menjadi salah satu penyedia utama CPO, namun kondisi ini harus diwaspadai,” ujar Faisal. Ia menambahkan bahwa situasi ini dapat memicu kompetisi yang lebih ketat di pasar internasional, terutama dalam industri kelapa sawit yang sangat bergantung pada pasar luar negeri.

Para pengusaha kelapa sawit berharap agar pemerintah dapat melakukan negosiasi dengan pihak AS untuk meninjau kembali tarif yang dikenakan, untuk mencegah penurunan lebih lanjut dalam kinerja ekspor. Dalam konteks ini, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi sangat penting untuk menjaga daya saing produk CPO Indonesia di pasar global.

Sumber:

  • Pengusaha Sawit Was-was Ekspor CPO Turun Imbas Tarif Trump 32% — Bisnis Indonesia (2025-07-08)
  • Pangsa Ekspor CPO RI ke AS Terancam Susut Imbas Tarif Trump — Bisnis Indonesia (2025-07-08)